Tahukah Anda?

Halaman 1 dari 20
No 1-5 dari 99

Hanjeli dan Potensinya sebagai Bahan Pangan

Hanjeli (Coix lacyma-Jobi L.) merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian atau Poaceae. Tanaman ini berasal dari Asia Timur dan Malaya, namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa varietas memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan juga obat. Hanjeli adalah nama popular di daerah Jawa Barat (Sunda), sedanhkan nama popular Indonesia adalah Jali atau Jali-jali. Tanaman ini menyebar di berbagai ekosistem lahan pertanian yang beragam dari daerah iklim kering, basah, lahan kering maupun lahan basah di Sumatera, Sulawesi,Kalimantan, dan Jawa. Ada dua varietas yang ditanam orang, yaitu Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi yang memiliki cangkang keras berwarna putih, bentuk oval dan dipakai untuk mani-manik. Varietas yang lainnya adalah Coix lacryma-jobi var. mayuen yang dimakan orang dan juga menjadi bagian dari tradisi pengobatan di Tiongkok. Jali merupakan rumpun setahun, rumpunnya banyak, batangnya tegak dan besar, tinggi 1-3 m, akarnya kasar dan sulit dicabut. Letak daunnya berseling, helaian daun berbentuk pita, ukuran daun 8-100x1,-5 cm, ujung daun runcing, pangkalnya memeluk batang, tepinya rata. Bunga keluar dari ketiak daun dan ujung percabangan, berbentuk bulir. Buahnya berbentuk buah batu, bulat lonjong, pada varietas mayuen berwarna putih/biru-ungu dan berkulit keras apabila sudah tua. Jenis buah yang dibudidayakan lunak dan dapat dibuat bubur, sedangkan jenis liar keras dan dapat digunakan untukmanik-manik pada kalung. Di Jawa Barat, tanaman ini ditanam petani masih secara konvensional sebagai tanaman langka, dan dapat ditemukan di Punclut Kabupaten Bandung, Cipongkor, Gunung Halu, Kiarapayung, Rancakalong , Tanjungsari Kabupaten Sumedang, Sukabumi, Garut, Ciamis dan Indramayu. Masyarakat setempat sudah biasa menikmatinya hasil olahan hanjeli ini sebagai bubur, tape, dodol dan sebagainya. Bagian biji dari varietas mayuen mengandung gisi setara beras, yaitu dalam 100 g bahan mengandung karbohidrat (76,4%), protein (14,1%), serta lemak nabati (7,9%), dan kalsium (54 mg). Sebagai bahan makanan, beberapa potensi pemanfaatan biji hanjeli adalah: 1. Sebagai campuran beras, ataupun digunakan sendiri sebagai nasi hanjeli 2. Sebagai campuran makanan sereal lainnya, misalnya campuran havermut (oatmeal), seperti produk yang dibuat oleh salah satu produsen makanan sereal terkemuka Taiwan (www.greenmax.com.tw) 3. Bubur hanjeli (dengan rasa manis seperti bubur kacang hijau), dan sebagai teman kolak 4. Difermentasi seperti tape ketan Berbeda dengan beras ketan yang bersifat lengket, hanjeli memiliki tekstur yang kenyal namun tidak lengket, sehingga sangat berpotensi untuk diolah menjadi alternatif makanan yang enak. Selain sebagai sumber pangan pokok, hanjeli juga sangat potensial sebagai tanaman obat. Sebagai bahan obat herbal, hanjeli dipercaya memiliki berbagai khasiat seperti peluruh air seni, dan antitumor (kanker). Sumber zat aktif obat diperoleh baik dari biji maupun dari ekstrak akarnya. Khasiat sebagai antitumor telah diteliti secara ilmiah. Zat aktif dalam hanjeli disebut coixenolide.

Sumber: Disarikan dari berbagai sumber.

Koro Pedang Dapat Dijadikan Tempe

Dalam beberapa bulan terakhir ini kita dilanda gonjang-ganjing kedelai gara2 harganya melambung tinggi. Akibatnya sudah kita rasakan bersama, produsen tahu tempe "ngambeg", konsumenpun "galau" karena tahu tempe sempat hilang dari peredaran. Adakah kacang-kacangan lain yg bisa dijadikan tempe? Jawabannya "ada" dan koro pedang (Canavalia ensiformis) adalah salah satu yang kandidatnya sangat potensial. Tanaman ini sangat bandel, mampu tumbuh di lahan marjinal sehingga tidak perlu bersaing untuk memperebutkan tanah subur untuk menanamnya. Meskipun kadar proteinnya lebih rendah dari kedelai tetapi masih rasional untuk diolah menjadi tempe.

Sumber: http://pascapanen.litbang.deptan.go.id/index.php/id/berita/207

Meniran Kaya Manfaat

Tahukah anda kalau meniran dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh ? Tidak hanya itu saja, tanaman yang sering kita temukan di pinggir-pinggir selokan tersebut juga dapat bermanfaat sebagai obat batuk, peluruh haid dan penambah nafsu makan. Penelitian oleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (balittro) menunjukkan bahwa Meniran (Phyllanthus sp) mengandung 0,01 % tannin yang dapat berperan sebagai antidiare dan 827 mg/100 mg kalium bahan segar yang berfungsi sebagai diuretik. Disamping untuk meningkatkan daya tahan tubuh , meniran juga terbukti berkhasiat memperbaiki fungsi hati dan memperbaiki fungsi hati dan memperbaiki fungsi ginjal.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

Jahe untuk Bunga Potong

Umumnya jahe lebih dikenal sebagai tanaman berkhasiat obat, yaitu dari species Zingiber officinale. Pada jahe ini, yang digunakan terutama adalah rimpangnya. Namun species lainnya seperti Zingiber spectabile dikenal karena keindahannya sebagai bunga potong. Species lain yang bisa digunakan sebagai bunga potong adalah Z. Zerumbet, Z. Ottensii, Z. Multibracteatum, Z. Kunstleri, dan Z. Fraseri.

Yang disebut bunga potong pada tanaman ini sebenarnya adalah rangkaian braktea. Pada awalmya braktea berwarna kuning kemudian berubah kemerahan dan kemudian menjadi merah. Zingiber spectabile ini tergolong berbunga musiman. Tanaman ini tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dan memerlukan naungan selama pertumbuhannya. Perbanyakan tanaman dilakukan dengan pemisahan rumpun maupun stek batang.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung.

Lengkeng dalam Bahasa Mandarin Artinya "Mata Naga"

Lengkeng berbentuk bulat berukuran sebesar kelereng. Lengkeng dalam bahasa mandarin dikenal sebagai ong ya guo/long yan (mata naga). Dalam bahasa Thailand dikenal lam yai, dan dalam bahasa latin dikenal Euphoria longana. Lengkeng banyak tumbuh di provinsi belahan utara Thailand, khususnya di Chiang Mai dan Lamphun, meskipun dipercaya berasal dari Sri Lanka dan India Selatan. Awal pertumbuhan di Thailand disebutkan bahwa sebagai buah-buahan yang dikenal lam yai dibawa dari Cina Selatan untuk Raja Chulalongkorn (Rama V), sebelum tahun 1896. Di Thailand, lengkeng (lam yai) menempati urutan kedua dari lima jenis buah ekspor segar setelah durian (turian), urutan ketiga manggis (mangkut), nenas (sapparot), dan jeruk (som o) (Adel A Kader, 2006; Anonymous, 2006)

Sumber: Dondy A. Setyabudi dan Iceu Agustinisari (BB-Pascapanen)