RPPK 

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS:
Kelapa

Investasi merupakan motor pertumbuhan ekonomi, yang sekaligus menjadi motor modernisasi pertanian. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai kondisi, prospek dan arah pengembangan agribisnis kelapa, sebagai informasi bagi para pemangku kepentingan tentang peluang investasi dari hulu hingga hilir dari agribisnis kelapa maupun aktivitas bisnis penunjangnya.

Sebagai produsen terbesar di dunia, kelapa Indonesia menjadi ajang bisnis raksasa mulai dari pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida, dll); proses produksi, pengolahan produk kelapa (turunan dari daging, tempurung, sabut, kayu, lidi, dan nira), dan aktivitas penunjangnya (keuangan, irigasi, transportasi, perdagangan, dll).

Daya saing produk kelapa pada saat ini terletak pada industri hilirnya, tidak lagi pada produk primer, di mana nilai tambah dalam negeri yang dapat tercipta pada produk hilir dapat berlipat ganda daripada produk primernya. Usaha produk hilir saat ini terus berkembang dan memiliki kelayakan yang tinggi baik untuk usaha kecil, menengah maupun besar. Pada gilirannya industri hilir menjadi lokomotif industri hulu.

 

Produk akhir yang sudah berkembang dengan baik adalah desicated coconut (DC), coconut milk/cream (CM/CC), coconut charcoal (CCL), activated carbon (AC), brown sugar (BS), nata de coco (ND) dan coconut fiber (CF). Yang baru mulai berkembang adalah virgin coconut oil (VCO) dan coconut wood (CW). Produk DC, CCL, AC, BS, dan CF sudah masuk pasar ekspor dengan perkembangan yang pesat, kecuali CF yang perkembangan ekspornya kurang karena belum terpenuhinya standar, walaupun permintaan dunia terus meningkat. Kopra dan CCO sebagai produk setengah jadi diharapkan dapat diolah lebih lanjut menjadi produk oleochemical (OC), di mana Indonesia masih menjadi pengimpor neto.

Permintaan pasar ekspor produk olahan kelapa umumnya menunjukkan trend yang meningkat. Sebagai contoh, pangsa pasar DC Indonesia terhadap ekspor DC dunia cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir. Kecenderungan yang sama terjadi pada arang aktif. Sebaliknya pangsa ekspor CCO mengalami penurunan. Situasi ini mengisyaratkan perlunya mengarahkan pengembangan produk olahan pada produk-produk baru yang permintaan pasarnya cenderung meningkat (demand driven).

Dengan produksi buah kelapa rata-rata 15,5 milyar butir per tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut. Industri pengolahan komponen buah kelapa tersebut umumnya hanya berupa industri tradisional dengan kapasitas industri yang masih sangat kecil dibandingkan potensi yang tersedia. Daerah sentra produksi kelapa di Indonesia adalah Propinsi Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Beberapa wilayah yang bukan sentra produksi tetapi memiliki potensi bahan baku tertentu yang berkualitas seperti NTB dan NTT untuk industri kayu.

Pengembangan industri hilir kelapa terpadu untuk menghasilkan CCO, AC, CF, dan cuka; sedangkan yang secara parsial untuk menghasilkan VCO, OC, DC, CF, BS, dan CW. Di Sulut (terpadu: 4 unit), Sulteng (terpadu: 2 unit), Riau (terpadu: 4 unit), Jambi (terpadu dan parsial 4 unit), Jabar, Banten, Jateng, Jatim, Lampung (parsial gula kelapa masing-masing 10 unit); DIY (parsial : industri kerajinan tempurung dan sabut). NTB/NTT (parsial: furniture dan rumah dari kayu kelapa). Untuk menunjang industri tersebut diperlukan intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan di usahatani serta pembangunan infrastruktur, kelembagaan, dan dukungan kebijakan.

Dukungan kebijakan yang diperlukan untuk usahatani adalah penyediaan kredit modal untuk intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan; pembinaan teknis dan kelembagaan produksi; adanya kelembagaan semacam “Coconut Board”; penyediaan informasi teknologi dan pasar; peningkatkan status hukum atas kepemilikan lahan usaha; dan pengembangan infrastruktur.

Perkiraan investasi secara keseluruhan untuk mengembangkan infrastruktur, usahatani, dan industri pengolahan kelapa 1,786 trilyun, yang terbagi atas 221 milyar oleh masyarakat (terutama petani), 917 milyar oleh kalangan swasta, dan 648 milyar oleh pemerintah (pusat dan daerah).

 

e-file Buku : Bagian A [pdf, 167 kb] || Bagian B [pdf, 821 kb] || Bagian C [pdf, 110 kb]



Ringkasan Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis:
Bidang Masalah : investasi | kesesuaian lahan | mekanisasi pertanian | pascapanen
Tanaman Pangan : jagung | kedelai | padi
Hortikultura : anggrek | bawang merah | jeruk | pisang
Perkebunan : cengkeh | kakao | karet | kelapa | kelapa sawit | tanaman obat | tebu
Peternakan : kambing domba | sapi | unggas

Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan :
Tentang RPPK | Pencangan RPPK | e-file RPPK

 
Keterangan lebih lanjut hubungi humas@litbang.deptan.go.id