RPPK 

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS:
Pisang

Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang merupakan tanaman unggulan di Indonesia. Namun demikian pengelolaan pisang masih sebatas tanaman pekarangan atau perkebunan rakyat yang kurang dikelola secara intensif. Penanaman pisang berskala besar telah dilakukan di beberapa tempat antara lain di pulau Halmahera (Maluku Utara), Lampung, Mojokerto (Jawa Timur), dan beberapa tempat lainnya, sehingga Indonesia pernah pengekspor pisang dengan volume mencapai lebih dari 100.000 ton pada tahun 1996, tetapi pada tahun-tahun berikutnya volume ekspor tersebut terus menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 yaitu hanya 27 ton. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun-tahun mendatang. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan lahan yang cukup luas di Kalimantan, Papua, kepulauan Maluku, Sulawesi dan Sumatera; iklim yang mendukung; keragaman varietas yang cukup tinggi; sumber daya manusia serta inovasi teknologi untuk pengelolaan tanaman pisang.

 

Meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi buah pisang secara nasional, sehingga kebutuhan buah pisang akan terus meningkat, maka perlu dilakukan pengembangan pisang baik secara intensifikasi maupun secara ekstensifikasi. Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian, yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam, yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).

Dengan berkembangnya pisang di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan ekspor buah pisang baik untuk segar maupun olahan. Agar produk pisang Indonesia dapat bersaing dan diterima oleh negara-negara pengimpor, maka dalam sistem pengelolaan pisang mulai dari hulu sampai hilir harus mengacu pada norma-norma pengelolaan yang baik seperti Good Agriculture Practices (GAP), Integrated Pest Management (IPM) dan prinsip Hazard Analysis Critical Point (HACCP). Pengembangan pisang di Indonesia tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu gambaran tentang investasi dan disertai informasi daerah pengembangan ke depan perlu diberikan, dan tentunya harus didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kemudahan dan jaminan keamanan berinvestasi serta perbaikan sarana pendukung seperti system pengairan, transportasi, komunikasi dan sarana pasar.

 

e-file Buku : Bagian A [pdf, 273 kb] || Bagian B [pdf, 2.183 kb]



Ringkasan Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis:
Bidang Masalah : investasi | kesesuaian lahan | mekanisasi pertanian | pascapanen
Tanaman Pangan : jagung | kedelai | padi
Hortikultura : anggrek | bawang merah | jeruk | pisang
Perkebunan : cengkeh | kakao | karet | kelapa | kelapa sawit | tanaman obat | tebu
Peternakan : kambing domba | sapi | unggas

Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan :
Tentang RPPK | Pencangan RPPK | e-file RPPK

 
Keterangan lebih lanjut hubungi humas@litbang.deptan.go.id