PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS: Tanaman Jeruk dapat tumbuh dan diusahakan petani di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan varietas/ spesies komersial yang berbeda, dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah hingga yang berpenghasilan tinggi. Pada tahun 2004, luas panen jeruk mencapai 70.000 ha dengan total produksi sebesar 1.600.000 ton, sekaligus menempatkan posisi Indonesia sebagai negara penghasil utama jeruk dunia ke 13 setelah Vietnam. Produktivitas usahatani jeruk nasional cukup tinggi, yaitu berkisar 17-25 ton/ha dari potensi 25-40 ton per ha. Walaupun data impor buah jeruk segar dan olahan cenderung terus meningkat, dan sebagian besar produksi dalam negeri terserap oleh pasar domestik, namun ekspor buah jeruk jenis tertentu seperti lemon, grapefruit dan pamelo juga terus meningkat sekaligus memberikan peluang pasar yang menarik. Pada tahun 2004, impor buah jeruk segar mencapai 94.696 ton sedangkan ekspornya sebesar 1.261 ton, atau sejak tahun 1998 masing-masing meningkat sebesar 16,6% dan 5,6% per tahun. Penulisan ini bertujuan untuk : (1) Menguraikan kondisi agribisnis saat ini; (2) Menguraikan mengenai prospek, potensi dan arah pengembangan komoditas; (3) Menguraikan strategi, kebijakan dan program; dan (4) Mendeskripsikan peluang investasi pengembangan dan usulan dukungan kebijakan. Dalam penyusunan makalah ini, tim peneliti menggunakan data-data dari Ditjen Bina Produksi Hortikultura, data Badan Pusat Statistik (BPS), data Food and Agriculture Organization FAO serta literatur berbagai hasil penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian. | |
Tanaman jeruk tersebar di seluruh Indonesia, dengan sentra produksi utama terdapat di propinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sekitar 70-80 % jenis jeruk yang dikembangkan petani masih merupakan jeruk siam, sedangkan jenis lainnya merupakan jeruk keprok dan pamelo unggulan daerah seperti keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Sioumpu dari Sulawesi Tenggara, keprok Tejakula dari Bali, dan keprok Kacang dari Sumatera Barat, pamelo Nambangan dari Jatim dan Pangkajene merah dan Putih dari Sulawesi Selatan; sedangkan jeruk nipis banyak diusahakan di Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Nilai ekonomis jeruk dapat dilihat dari tingkat kesejahteraan petaninya yang relatif tinggi. Keuntungan usahatani jeruk biasanya mulai diperoleh pada tahun ke-4, dengan besar yang bervariasi tergantung jenis maupun lokasi. Analisis usahatani jeruk di lahan pasang surut di Lampung dan Kalimantan Selatanl yang memberikan nilai B/C sebesar 1,6 – 2,92, dengan nilai NPV sebesar Rp.6.676.812 – Rp. 9.982.250 dan IRR sekitar 39,4%. Secara umum, hasil analisis terhadap rataan biaya produksi usahatani jeruk per hektar, diperoleh tingkat keuntungan usahatani sebesar Rp 369,57 juta/ha/siklus tanaman atau Rp 33,60 juta/ha/tahun. Saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor sebesar 94.696 ton; sedangkan ekspornya hanya sebesar 1.261 ton dengan tujuan ke Malaysia, Brunei Darusalam, dan Timur Tengah. Ekspor jeruk nasional masih sangat kecil dibanding dengan negara produsen jeruk lainnya seperti Spanyol, Afsel, Yunani, Maroko, Belanda, Turki dan Mesir. Oleh karena itu, pemacuan produksi jeruk nasional akan memiliki urgensi penting karena disamping untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, konsumsi buah dan juga meningkatkan devisa ekspor nasional. Impor buah jeruk segar yang terus meningkat, mengindikasikan adanya segmen pasar (konsumen) tertentu yang menghendaki jenis dan mutu buah jeruk prima yang belum bisa dipenuhi produsen dalam negeri. Dengan makin meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan, dan kesadaran kebutuhan gizi masyarakat, maka permintaan buah jeruk yang kaya mineral dan vitamin ini akan terus meningkat. Pada tahun 2010, kebutuhan produksi buah jeruk diprediksi sebesar 2.355.550 ton dan jika produktivitasnya 17 - 20 ton per ha, maka pada tahun tersebut diperlukan luas panen kurang lebih 127.327 ha dari 70.000 ha luas panen yang tersedia pada tahun 2004. Penambahan luas areal untuk mencapai total produksi yang telah ditetapkan hingga tahun 2010 diprediksikan minimal 27.327 ha diluar tanaman yang belum berproduksi saat itu. Hingga tahun 2010 diperkirakan kebutuhan pengembangan areal baru seluas 30.060 ha. Dari luasan ini, maka keperluan bibit jeruk yang bebas penyakit diperkirakan sebanyak 15.030.000 (populasi 500 bibit/ha). Kebijakan yang langsung tekait dengan pembangunan dan pengembangan agribisnis jeruk di beberapa sentra produksi meliputi: (1) Kebijakan Peningkatan kompetensi SDM; (2) Kebijakan Peningkatan koordinasi dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan agribisnis jeruk; (3) Kebijakan Penguatan kelembagaan petani dan pelaku agribisnis jeruk; (4) Kebijakan peningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana mendukung pengembangan agribisnis jeruk; (5) Kebijakan percepatan proses perakitan teknologi spesifik lokasi, diseminasi dan alih inovasi teknologi anjuran dapat dimanfaatkan untuk merespon baik permasalahan dan kebutuhan inovasi teknologi spesifik lokasi; dan (6) Kebijakan peningkatan promosi dan proteksi jeruk. Berdasarkan kondisi agribisnis jeruk saat ini dan yang ingin diwujudkan masa mendatang terutama pada tahun 2010, maka program revitalisasi agribisnis jeruk meliputi beberapa kegiatan utama, yaitu: (1) Pengakurasian data agribisnis jeruk; (2) Revitalisasi industri benih jeruk; (3) Revitalisasi Sentra produksi Jeruk; (4) Penumbuhan sentra agribisnis baru; (5) Pembangunan Pabrik Pengolahan; (6) Pembentukan Jaringan Informasi Agribisnis Jeruk; dan (7) Revitalisasi Penyuluhan dan Pembinaan Petani. Berdasarkan program-program pengembangan agribisnis jeruk sebelumnya, maka terdapat beberapa kegiatan investasi prospektif terkait pengembangan agribisnis jeruk ini. Kegiatan atau kebutuhan investasi ini dapat mencakup: (1) Pengembangan kawasan sentra produksi buah jeruk yang dilakukan melalui pengembangan kebun jeruk skala besar di 10 provinsi dan skala kecil di 20 provinsi; (2) Pengembangan industri benih jeruk; (3) Investasi unit pengolahan hasil dalam skala besar industri dan skala rumah tangga/UKM; (4) Investasi terkait pusat agroklinik; (5) Investasi Pembangunan Packing House; dan (6) Investasi Alsin Pemeras Jeruk. | |
e-file Buku : Bagian A [pdf, 300 kb] || Bagian B [pdf, 1.054 kb] || Bagian C [pdf, 438 kb] || Bagian D [pdf, 424 kb] | |
Ringkasan Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis: Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan : | |
Keterangan lebih lanjut hubungi humas@litbang.deptan.go.id | |