RPPK 

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS:
Tinjauan Aspek Kesesuaian Lahan

Salah satu informasi dasar yang dibutuhkan untuk pengembangan pertanian adalah data spasial (peta) potensi sumberdaya lahan, yang memberikan informasi penting tentang distribusi, luasan, tingkat kesesuaian lahan, faktor pembatas, dan alternatif teknologi yang dapat diterapkan. Namun, pada kenyataannya data/informasi sumberdaya lahan tersebut belum tersedia secara menyeluruh pada skala yang memadai. Sampai saat ini, informasi sumberdaya lahan yang tersedia di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak) untuk seluruh Indonesia hanya peta pada skala eksplorasi (1:1.000.000), sedangkan data/peta pada skala tinjau (1:250.000) baru sekitar 57% dari total wilayah Indonesia, dan peta pada skala semi detil hingga detil (1:50.000 atau lebih besar) hanya sekitar 13%.

Oleh karena keterbatasan data/peta yang tersedia tersebut, maka dalam analisis potensi lahan ini digunakan data sumberdaya lahan yang tersedia untuk seluruh Indonesia, yaitu pada skala eksplorasi (1:1.000.000). Peta tersebut hanya sesuai digunakan sebagai acuan untuk perencanaan atau arahan pengembangan komoditas secara nasional. Sedangkan untuk tujuan operasional pengembangan pertanian di tingkat kabupaten/kecamatan, diperlukan data/peta sumberdaya lahan pada skala 1:50.000 atau lebih besar, yang secara bertahap perlu dibangun.

 

Berdasarkan kondisi biofisik lahan (fisiografi, bentuk wilayah, lereng, iklim), dari 188,2 juta ha total daratan Indonesia, lahan yang sesuai untuk pertanian adalah seluas 100,7 juta ha, yaitu 24,5 juta ha sesuai untuk lahan basah (sawah), 25,3 juta ha sesuai untuk lahan kering tanaman semusim, dan 50,9 juta ha sesuai untuk lahan kering tanaman tahunan.

Dari 24,5 juta ha lahan yang sesuai untuk lahan basah, 8,5 juta ha di antaranya sudah digunakan untuk lahan sawah. Namun karena adanya konversi (alih guna) lahan sawah, maka luas lahan sawah baku saat ini sekitar 7,8 juta ha. Sekitar 16 juta ha lahan sesuai untuk perluasan lahan sawah yang terdiri dari 3,5 juta ha lahan rawa dan 12,5 juta ha lahan non rawa. Lahan non rawa yang berpotensi dijadikan sawah tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Di pulau Jawa lahan yang sesuai tersebut kebanyakan sudah digunakan untuk keperluan lain sehingga hampir tidak mungkin melakukan ekstensifikasi sawah di pulau Jawa. Lahan rawa yang berpotensi dijadikan sawah terutama tersebar di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Lahan basah tersebut, selain sesuai untuk padi sawah juga sesuai untuk palawija (jagung, kedelai). Selain itu, lahan sawah pada daerah yang beriklim agak kering (curah hujan < 1.500 mm/tahun) dan umumnya terdapat di dataran aluvial, dapat dikembangkan pula untuk bawang merah.

Lahan kering yang sesuai untuk pertanian tanaman semusim seluas 25,3 juta ha dan 50,9 juta ha sesuai untuk pertanian tanaman tahunan. Namun, sampai saat ini belum diketahui secara pasti berapa luas lahan kering yang telah digunakan untuk pertanian. Meskipun demikian, sebagai perkiraan dapat digunakan data tabular BPS, di mana total lahan pertanian di lahan kering tersebut seluas 54 juta ha, sehingga masih tersisa lahan potensial seluas 22,3 juta ha, terluas di Papua (9,9 juta ha), Kalimantan Timur (5,1 juta ha), Kalimantan Tengah (2,2 juta ha), Kalimantan Barat (1,8 juta ha), dan Riau (1,6 juta ha).

Dengan adanya dinamika alih guna lahan, maka data penggunaan lahan yang diperoleh berdasarkan evaluasi sebelum tahun 2000 ini perlu dimutakhirkan, dengan bantuan data penggunaan lahan sekarang (dari citra satelit) sehingga sebaran dan luas lahan yang masih tersedia dapat diketahui secara lebih akurat. Selain masalah akurasi data, juga terjadi persaingan dalam pemanfaatan lahan baik di antara sub sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan) maupun antara sektor pertanian dengan sub sektor lain (industri dan pemukiman). Sebagai ilustrasi, pesatnya perkembangan lahan perkebunan di Sumatera dan Kalimantan umumnya menggunakan lahan-lahan datar-bergelombang, sehingga peluang untuk pengembangan pangan menjadi kecil. Demikian juga perkembangan perkotaan dan industri di hampir seluruh Indonesia, umumnya terjadi pada lahan-lahan datar dan sebagiannya merupakan lahan pertanian produktif. Oleh karena itu, dalam pembangunan pertanian ke depan perlu adanya skala prioritas, baik antar sektor maupun komoditas yang akan dikembangkan.

Idealnya, tanaman pangan (palawija dan sayuran) diarahkan pada lahan datar-bergelombang (lereng < 15%), dan tanaman tahunan (hortikultura dan perkebunan) pada lahan bergelombang-berbukit (lereng 15-30%), karena tanaman tahunan/perkebunan umumnya berupa perkebunan besar (swasta) dengan modal yang cukup memadai untuk menerapkan teknologi konservasi tanah dan teknologi produksi. Sebaliknya, apabila petani kecil berusahatani tanaman pangan (tanaman pangan dan sayuran semusim) pada lahan berlereng 15-30%, maka pengolahan tanah cenderung dilakukan secara intensif. Keterbatasan modal menyebabkan teknologi konservasi tanah sulit diterapkan. Apalagi bila lahan tersebut berada pada wilayah beriklim basah, maka erosi tanah akan semakin meningkat dan degradasi lahan sulit dihindari.

Dalam jangka pendek, strategi perluasan areal pertanian dapat diprioritaskan untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur (alang-alang) yang luasnya sekitar 8,5 juta. Sebagian (1,08 juta ha) lahan tersebut telah didelineasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000, yang terebar di 13 propinsi. Lahan tersebut sangat berpeluang dikembangkan baik untuk tanaman semusim maupun tahunan, terutama di daerah transmigrasi di mana infrastruktur cukup baik dan tenaga kerja tersedia.

Di samping itu, terdapat lahan rawa (pasang surut) yang sudah pernah direklamasi seluas 4,19 juta ha, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal dan bahkan diterlantarkan. Lahan yang telah dikembangkan hanya seluas 835.200 ha, sehingga masih terbuka peluang untuk pengembangan dan perluasan areal lahan sawah, tentunya dengan perencanaan, pemanfaatan, dan pengelolaan lahan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Selain itu, lahan sawah irigasi yang ada sekarang ini, perlu dipertahankan keberadaannya karena sawah tersebut telah menghabiskan investasi yang besar dalam pencetakan dan pembangunan jaringan irigasinya, misalnya dengan menetapkan lahan sawah abadi.

 

e-file Buku : Bagian A [pdf, 295 kb] || Bagian B [pdf, 899 kb] || Bagian C [pdf, 899 kb]



Ringkasan Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis:
Bidang Masalah : investasi | kesesuaian lahan | mekanisasi pertanian | pascapanen
Tanaman Pangan : jagung | kedelai | padi
Hortikultura : anggrek | bawang merah | jeruk | pisang
Perkebunan : cengkeh | kakao | karet | kelapa | kelapa sawit | tanaman obat | tebu
Peternakan : kambing domba | sapi | unggas

Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan :
Tentang RPPK | Pencangan RPPK | e-file RPPK

 
Keterangan lebih lanjut hubungi humas@litbang.deptan.go.id