Berita » Perkembangan Jagung Hibrida Badan Litbang Pertanian

(adm/16 Peb 2011)

Badan Litbang Pertanian selama periode 1992-2001 telah merilis 10 hibrida silang tiga jalur yaitu varietas Semar 1 – Semar 10 dan 1 hibrida silang tunggal yaitu varietas Bima 1. Sejak itu, rilis varietas jagung hibrida unggul baru berjalan agak lambat dan baru dirilis lagi pada tahun 2007 dengan nama Bima 2 Bantimurung  dan Bima 3 Bantimurung. Pada tahun 2008 Badan Litbang Pertanian merilis lagi tiga varietas jagung hibrida unggul baru yaitu  Bima 4, Bima 5 dan Bima 6. Untuk tahun 2010 sebanyak 5 varietas  jagung hibrida unggul baru yang dirilis yaitu , Bima 7, Bima 8, Bima 9, Bima 10, dan Bima 11.

Jagung hibrida varietas Bima 2 Bantimurung atau yang lebih dikenal dengan nama dagang jagung hibrida Pak Tani 2 telah dilisensi dan dikembangkan oleh PT. Benih Saprotan Utama. Jagung Pak Tani 2 ternyata cukup diminati oleh petani khususnya di daerah sentra pengembangan jagung di Indonesia, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Selain PT. Benih Saprotan Utama. Varietas jagung hibrida unggul baru Balitsereal juga dilisensi/diproduksi benihnya oleh beberapa perusahaan benih nasional yaitu PT. Parisonna Alam Sejahtera untuk varietas Bima 3 Bantimurung dengan nama dagang RK789,  PT. Bintang Timur Pasifik untuk varietas Bima 4 dengan nama dagang Gemilang 1, PT. SAS  untuk varietas Bima 5,   PT. Makmur Sejahtera Nusantara untuk varietas Bima 6, PT. Biogene Plantation untuk Bima 7 dan 8 serta PT. Tossa Agro untuk Bima 9, Bima 10 dan Bima 11.  Deskripsi lengkap dari varietas unggul baru tersebut dapat diakses online pada http://balitsereal.litbang.deptan.go.id

Dari sejumlah varietas jagung hibrida yang telah dirilis oleh Badan Litbang Pertanian, dua varietas tergolong berumur genjah ( Umur ≤ 90 hst) yaitu Bima 7 dan Bima 8. Jagung umur genjah merupakan program salah satu program strategis Badan Litbang Pertanian untuk menghadapi perubahan iklim global.

Hal ini penting karena pertanaman jagung di Indonesia sekitar 79% terdapat di lahan tegal dan 10% di lahan sawah tadah hujan yang memerlukan varietas umur genjah (<90hari) toleran kekeringan.  Varietas unggul jagung berumur genjah diperlukan oleh banyak petani terutama untuk menyesuaikan pola tanam dan ketersediaan air.  Di lahan sawah, tanaman jagung biasanya diusahakan setelah panen padi, sehingga diperlukan varietas-varietas jagung berumur genjah. Selain itu, tanaman jagung umur genjah juga berpotensi untuk dimanfaatkan oleh petani sebagai tanaman antar musim tanaman tembakau.

Oleh karena kegiatan pemuliaan merupakan kegiatan yang berkelanjutan sehingga siklus pembentukan varietas tidak bisa berhenti meskipun varietas unggul baru telah dirilis, tetapi tetap dilanjutkan untuk pembentukan populasi dasar, famili atau galur generasi menengah dan lanjut. Untuk itu pada akhir tahun 2011 Badan Litbang Pertanian akan merilis varietas jagung hibrida unggul baru berumur sedang (90-100 hari) dan berpotensi hasil tinggi (>13 t/ha) toleran kekeringan dan kemasaman tanah serta jagung hibrida umur genjah umur ± 85 hst dan potensi hasil 11 t/ha. 

Sumber : Balitsereal – Maros

Jagung Hibrida