Berita » Temu Teknis Jabatan Fungsional Non Peneliti Hasilkan Tiga Makalah Terbaik

(adm/26 Okt 2010)

Tiga makalah terbaik pada Temu Teknis Jabatan Fungsional Non Peneliti diberikan kepada Qomarudin, Gatot Gito Haryanto, dan Didiek Kristianto, menyisihkan 62 dari tulisan para pejabat fungsional Teknisi Litkayasa, penyuluh, Pustakawan, Arsiparis, Statistisi, Pranata Komputer, Pranata Humas, Analis Kepegawaian, dan sebagainya.

Judul makalah  yang diangkat Qomarudin, Teknisi Litkayasa dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru Kalimantan Selatan,  adalah “Flora Rawa Yang Berpotensi Sebagai Insektisida Nabati Terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura)”. Makalah ini mengetengahkan tumbuhan lahan rawa pasang surut Kalimantan Selatan dan Tengah yang berpotensi sebagai tanaman perangkap, pengusir hama, pupuk organik dan bahkan sebagai pestisida nabati. Dari hasil pengamatan dan percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui tanaman rawa seperti Rumput Minjangan, Maya, Sirih Hutan, Tumbuhan Kayu Lurus/Sungkai, Simpur, Kalampan, Binderang, Bakung, Jengkol, Tawar dan tumbuhan mercon dapat membunuh ulat grayak sampai 75-95%. Hal ini perlu mendapat perhatian kelestariannya serta dimanfaatkan sebagai pengganti pestisida sintentis dalam pengendalian ulat grayak. 

Gatot Gito Haryanto, Pranata Humas dari Sekretariat Badan Litbang Pertanian, membawakan makalah yang berjudul “Website Sebagai Media Penyebarluasan Hasil Penelitian/Pengkajian”. Makalah ini memberikan alternatif dalam pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai media penyebarluasan hasil penelitian/pengkajian. Dari hasil kajiannya tersebut dinyatakan bahwa website cukup efektif bila dimanfaatkan sebagai media penyebarluasan mengingat segala bentuk informasi hasil penelitian/pengkajian disamping dapat terdokumentasi dengan baik, juga dapat di akses dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja selama dua puluh empat jam dan tujuh hari. 

Sementara itu, Didiek Kristianto, Teknisi Litkayasa dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika, Malang, menyatakan perluasan areal dan pengembangan tanaman apel di beberapa daerah di Indonesia membutuhkan benih apel yang tidak sedikit, sehingga perlu menyiapkan batang bawah yang siap okulasi dan mata tempel yang memadai. Hal tersebut tertuang dalam makalahnya yang berjudul “Teknik Sinkronisasi Penyediaan Batang Bawah dan Mata Tempel Pada Perbenihan Apel”.

Kriteria yang dinilai oleh Tim Evaluator yang yang terdiri dari Hilmi Ridwan K., Hadi Budiman, dan Eka Kusmayadi adalah (i) kesesuaian judul dengan isi materi, (ii) penyajian makalah, dan (iii) keaktifan dalam berdiskusi selama acara Temu Teknis yang berlangsung selama dua hari tersebut.  

Saat menutup acara, Kepala BBP2TP Dr. Muhrizal Sarwani berpesan kepada peserta Temu Teknis agar lebih profesional dalam mengembang tugasnya masing-masing. “Apapun tugas jabatan fungsional Saudara hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab. Hidup dan hidupilah Badan Litbang Pertanian, jangan hidup di Badan Litbang Pertanian,” tegasnya.

 

 

Berita Terkait :

Gatot Gito Haryanto, salah satu pemakalah terbaik, menerima penghargaan dari Djoko Purnomo