Berita » Menyelamatkan Kerbau Belang, Ikut Menyelamatkan Budaya Tana Toraja

(hms/23 Sep 2010)

Upaya meningkatkan efisiensi reproduksi ternak kerbau dapat dilakukan melalui kawin tepat waktu baik secara alami maupun Inseminasi Buatan (IB). Saat-saat birahi inilah yang perlu diketahui para peternak agar dapat memperpendek jarak beranak, dari yang biasanya antara 20-24 bulan menjadi 14-16 bulan. Akibat jarak beranak yang panjang tersebut menyebabkan peningkatan populasi ternak kerbau menjadi terhambat. Bila dikaitkan dengan kegiatan ritual kebiasaan masyarakat Tana Toraja, jumlah pemotongan kerbau belang dewasa yang mempunyai nilai jual 150 juta mencapai 50-60 ekor per tahun, padahal kelahirannya hanya 10-20 ekor per tahun, menyebabkan populasi kerbau belang menjadi berkurang.

Kerbau Belang (Bubalus bubalis) adalah binatang paling penting bagi orang Toraja, salah satu etnis Pulau Sulawesi. Bagi etnis Toraja, khususnya  Toraja Sa’adan, kerbau adalah binatang  yang paling penting dalam kehidupan sosial mereka. Kerbau atau dalam bahasa setempat tedong atau karembau tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.  Selain sebagai hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup sosial, ritual maupun kepercayaan tradisional. Kerbau juga menjadi alat takaran status sosial dan alat transaksi.

Karena kerbau memiliki efisiensi reproduksi yang rendah disebabkan karena pubertas terlambat, tanda-tanda berahi kurang jelas dan angka kebuntingan rendah, sehingga perlu mencermati kapan masa berahi kerbau itu mucul agar dapat dilakukan perkawinan secara tepat waktu. Selain itu untuk mempertahankan eksistensinya kerbau belang untuk mendukung dan menyelamatkan budaya masyarakat Tana Toraja, maupun meningkatkan produktivitas kerbau rawa dari Kalimantan Selatan sebagai penunjang swasembada daging, perlu dipertimbangkan dengan memperpendek jarak beranak maupun dengan melakukan IB.

Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya meningkatkan produktivitas dan populasi ternak kerbau sebagai upaya mendukung swasembada daging maupun mempertahankan eksistensinya kerbau belang sebagai plasma nutfah hewani.

 

 

Sumber : Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau

Kerbau Belang