Berita » Sambiloto dan Jahe untuk Pencegahan dan Obat Aflatoksikosis

(adm/19 Jul 2010)

Penelitian Balai Besar Penelitian Veteriner menghasilkan inovasi berupa penggunaan campuran bahan tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan  jahe (Zingiber officinale) untuk pencegahan dan obat aflatoksikosis (keracunan aflatoksin) pada unggas. Hasil inovasi ini dalam bentuk serbuk sambiloto dan jahe yang dicampurkan pada pakan unggas dengan dosis 0,2% sambiloto dan 0,5% jahe (berat kering).

Aflatoksikosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh keracunan aflatoksin yang dapat terjadi pada unggas diantaranya ayam pedaging, ayam petelur dan itik yang mengkonsumsi pakan yang mengandung kontaminan aflatoksin yang cukup tinggi (> 50 ppb).

Keracunan aflatoksin kronis pada ternak unggas dilaporkan dapat menyebabkan penurunan bobot badan, produksi telur, penurunan tingkat kekebalan tubuh terhadap penyakit dan juga berpotensi meninggalkan residu pada produk ternaknya. Keracunan terus menerus akhirnya merusak organ hati. Ciri-cirinya adalah perubahan warna hati menjadi pucat kekuningan, pembengkakan dan terdapat nodul-nodul kecil menyerupai tumor pada permukaan hati.

Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan Bbalitvet terbukti pakan ayam yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia umumnya  tercemar aflatoksin. Data 2004, menunjukkan bahwa 14% pakan ayam dari jumlah 207 sampel pakan  yang dianalisis mengandung aflatoksin melebihi standar mutu berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), yaitu > 50 ppb.

Hasil inovasi penggunaan sambiloto dan jahe (0,2% dan 0,5%) yang dicampurkan pada pakan unggas dapat meningkatkan nilai titer ND, dapat memperbaiki kelainan organ hati yang rusak karena aflatoksin berupa warna lebih pucat dan hati yang membengkak menjadi warna dan berat hati yang normal, dapat mengurangi derajat keparahan lesi hati dan ginjal menjadi lesi dengan derajat keparahan ringan (+) sampai sedang (++). Akan tetapi untuk kadar aflatoksin yang tinggi pada pakan (> 500 ppb), nampaknya penggunaan kedua campuran tanaman obat tersebut  kurang efektif. Selain itu sambiloto dan jahe dapat memperbaiki produksi telur yang turun karena aflatoksin dan dapat mengurangi residu aflatoksin pada produk ternak (hati, daging dan telur). Makin tinggi aflatoksin pada pakan, produksi telur makin turun. Kadar aflatoksin makin tinggi pada pakan juga cenderung memberikan residu aflatoksin yang lebih tinggi pada hatinya. 
Hasil inovasi sebelumnya penggunaan sambiloto (ekstrak air dosis 0,18%)  pada ternak itik ternyata cukup efektif mencegah aflatoksikosis, residu AFB1 pada organ hati juga terdeteksi berbeda nyata pada perlakuan sambiloto dibandingkan kontol positif AFB1.

Selain itu, seperti yang dilaporkan Murdiati dan kawan-kawan penggunaan jahe pada ayam petelur efektif sebagai immuno modulator, peningkatan respon kekebalan, yang ditunjukkan dengan meningkatnya titer antibody terhadap ND ayam yang diberi perlakuan jahe dibandingkn dengan kontrol, tanpa perlakuan jahe.

Penggunaan sambiloto dan jahe untuk mencegah dan obat keracunan aflatoksin mempunyai keunggulan, bahan obat tersebut mudah dibudidayakan dan relatif murah, serta mudah digunakan hanya dengan mencampurkannya pada pakan. Masih perlu uji terap lapang untuk mengevaluasi lebih jauh efektifitas dari penggunaan campuran kedua bahan tanaman tersebut diatas.  
Adapun cara penggunaan inovasi ini adalah campur hingga merata semua bahan, yaitu (i) Pakan unggas (ayam broiler, ayam petelur dan itik), (ii) serbuk sambiloto (0,2%) ,  2 kg sambiloto bobot kering/ ton pakan, (iii) serbuk jahe (0,5%) atau 5 kg jahe bobot  kering/ ton pakan. Nah siap sudah untuk diberikan pada ayam.

Perlu diingat pakan unggas yang sudah dicampur sambiloto dan jahe agar disimpan ditempat kering, tidak lembab, suhu ruang tidak panas dan disimpan tidak lebih dari 3 minggu, karena penyimpanan yang tidak baik dapat menyebabkan tumbuhnya kapang Aspergillus flavus atau Aspergillus prasiticus yang potensial menghasilkan senyawa toksik aflatoksin. 

 

Sumber: BBalitvet