Berita » Kenali Hama Penggerek Batang Jagung, Serangannya Mampu Menurunkan Hasil 80 Persen

(hms/17 Des 2009)

Sebaiknya anda mengenali lebih dahulu tentang hama, penyakit dan unsur haranya sebelum menerjunkan diri dalam budidaya jagung. Sebaik apapun benih jagung yang dimiliki tanpa memperhatikan permasalahan tersebut, niscaya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Mengingat jagung di Indonesia merupakan sumber pangan, pakan maupun bahan industri, maka budidaya jagung mendapatkan prioritas utama dalam program pembangunan pertanian. Informasi ini dapat dijadikan pedoman anda dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam dunia budidaya jagung seperti hama, penyakit maupun haranya.

Di Indonesia, jagung ditanam pada agroekosistem yang beragam, mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai berproduktivitas rendah (lahan suboptimal dan marjinal). Karena itu perlu teknologi produksi spesifik lokasi, sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Jagung bisa ditanam di lahan marjinal meski perlu penambahan pupuk yang cukup dan pemenuhan unsur hara yang memadai. Bila penanaman jagung di lakukan di lahan sawah tentunya akan mendapatkan hasil yang maksimial.

Hama yang sering kali merusak tanaman jagung antara lain penggerek batang jagung, ulat grayak, penggerek tongkol jagung, lalat bibit, belalang, dan kutu daun. Hama penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis Guenee) misalnya, hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Ngengat (sejenis kupu-kupu) biasanya aktif pada malam hari dan menghasilkan beberapa generasi per tahun, umur ngengat dewasa 7-11 hari.

Sedangkan penyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai (Downy Medew). Rusaknya tanaman jagung karena penyakit ini disebabkan oleh jamur. Pada tingkat penularan penyakit bulai yang parah, dapat menurunkan produksi dan bahkan menggagalkan panen. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan benih (seed treatment), yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan takaran 2 g untuk setiap kg benih.Disamping itu kekurangan unsur hara pada tanaman jagung dapat menghambat pertumbuhan jagung, tanaman menjadi kerdil dan pada tingkat kekurangan unsur hara yang parah dapat menyebabkan tanaman jagung mati.

Hama, penyakit maupun unsur hara tersebut merupakan salah satu faktor penentu terhadap keberhasilan jagung dapat tumbuh dengan baik dengan mempunyai hasil yang optimal.

 

Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan.

Hama, Penyakit, Hara pada Jagung

Lampiran