Berita » Mengangkat Lahan Rawa Lebak Sebagai Penghasil Padi

(hms/19 Mei 2008)

Indonesia memiliki lahan rawa lebak yang luasnya mencapai 13,28 juta ha dan tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Berdasarkan penelitian, lahan tersebut mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu sentra produksi padi nasional. Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan suatu pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Lahan Rawa Lebak sebagai acuan bagi para penyuluh dan petani dalam menentukan teknologi yang tepat.

Tingginya konversi lahan irigasi ke non pertanian, perlu melirik potensi lahan rawa lebak sebagai penghasil padi. Pemerintah bersama pakar tanah dan air dari Belanda Prof. Dr. H.I. Schopuys dan almarhum Haji Idak, sebagai petani rawa teladan nasional, telah mengembangkan lahan rawa lebak. Sistem yang diperkenalkannya adalah sistem Polder yang dikenal dengan ”Polder Alabio” dan ”Polder Mentaren” pada tahun 1949-1972. Sejak saat itu lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan bisa ditanami padi dua kali setahun dan diikuti oleh palawija.

Penelitian yang selama ini dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian melalui Pusat Penelitian Tanah (kini Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian), Balai Penelitian Tanaman Rawa (Balittra) Banjarbaru, Proyek SWAMP II, maupun perguruan tinggi di beberapa lokasi lahan rawa lebak di Sumatera Selatan, Kalimantan dan Jambi menunjukkan bahwa salah satu faktor keberhasilan usahatani padi pada agroekosistem ini terletak pada penggunaan varietas unggul dan waktu tanam yang tepat. Sampai saat ini baru berkisar 0,729 juta ha yang ditanami untuk usahatani padi. Masih sedikitnya dan semakin menurunnya lahan rawa lebak sebagai penyumbang produksi padi nasional, disebabkan kurang tepatnya penetapan waktu tanam dan penentuan varietas unggul padi. Keberhasilan budidaya padi di lahan rawa lebak sangat tergantung dari iklim, khususnya pola curah hujan, karena umumnya lahan rawa lebak sering mengalami banjir.

Sedikitnya ada empat sistem untuk mengangkat lahan rawa lebak sebagai penghasil padi nasional, tergantung pada keadaan musim dan ketinggian genangan air yaitu, (1) sistem sawah, (2) sistem gogo rancang, (3) sistem rancah gogo, dan (4) sistem gogo. Kesemua sistem tersebut tergantung keadaan musim atau ketersediaan air. Bila dalam budidaya padi di lahan rawa lebak pilihannya dijatuhkan pada ”sistem sawah”, maka pertanaman dilakukan di musim hujan atau menjelang akhir musim hujan. Selanjutnya bila pilihan dijatuhkan pada ”sistem gogo” biasanya pertanaman dilakukan pada musim kemarau dengan catatan masih ada hujan dengan air yang cukup tersedia. Sedangkan pada ”sistem gogo rancah” penanaman dilakukan pada akhir musim kemarau atau awal musim hujan. Sedangkan disebut sistem ”rancah gogo” apabila pertanaman dilakukan pada akir-akhir musim hujan menjelang musim kemarau.

Informasi tentang PTT Padi Lahan Rawa Lebak ini setidaknya dapat dijadikan referensi bagi pemerintah daerah yang memiliki wilayah lahan rawa lebak untuk dikembangkan sebagai penghasil padi untuk menunjang ketahanan pangan wilayah.

Rawa Lebak

Lampiran