Berita » Info Aktual » Angke dan Code, Varietas Unggul Padi Tahan Hawar Daun Bakteri

(adm/26 Apr 2007)

Pemerintah  optimis akan meningkatkan produksi beras pada tahun 2007 ini. Untuk mencapai target tersebut perlu dilakukan perubahan dalam  berbagai hal, termasuk sarana dan prasarana. Perubahan  yang dilakukan diantaranya penggunaan varietas unggul oleh petani. Harus diakui varietas unggul adalah  salah satu komponen utama dalam peningkatan produksi padi.

Di lapangan, penggunaan benih yang digunakan oleh petani sering terkendala oleh berbagai hama dan penyakit. Hawar Daun Bakteri (HDB) dan blas merupakan penyakit paling penting dan menyebabkan penurunan hasil padi di sawah maupun lahan kering. Salah satu daerah endemisnya adalah Cianjur. HDB dan blas mempunyai banyak varian sehingga dapat mematahkan ketahanan varietas padi akan penyakit.

Sebenarnya, varietas unggul yang tahan berbagai macam hama dan penyakit akan mempunyai spektrum ketahanan lebih luas. Dalam perjalanannya, pembentukan varietas bisa lebih mudah dan efisien apabila diseleksi dengan bantuan bioteknologi khususnya menggunakan marka molekuler.

Dalam rangka pengenalan dan diseminasi produk hasil penelitian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) bekerja sama dengan Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat, dan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur mengadakan kegiatan panen padi varietas Code dan Angke  di kampung Andir kecamatan  Ciranjang, Cianjur Propinsi Jawa Barat,  Rabu 18 April 2007 lalu.

“Varietas Angke dan Code dibentuk dengan metode silang balik (back cross) oleh peneliti di BB-Biogen dengan IR64 sebagai tetua berulang serta IRBB5 dan IRBB7 sebagai tetua donor masing-masing untuk gen ketahanan terhadap HDB Xa5 dan Xa7,” ungkap Kepala BB-Biogen Dr. Sutrisno kepada Majalah Agrotek usai melakukan panen padi tersebut.

Varietas Angke dan Code dibuat untuk dapat menggantikan IR64 yang selama ini banyak digunakan oleh petani. Saat ini di beberapa tempat yang endemis HDB, hasil panen gabah kering dari varietas IR64 turun hingga 20%. Padahal IR64 merupakan varietas favorit petani.

“Untuk mensiasati agar terdapat padi sejenis IR64 namun tahan terhadap HDB, maka dibentuklah kedua varietas ini (Angke dan Code, red.). Tentu saja keduanya mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan IR64, seperti, umur 115-120 hari, tinggi tanaman 90-100 cm, mutu beras baik, tahan hama wereng coklat biotipe 1 dan 2,” imbuh Sutrisno.

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hegar Tani di Ciranjang, Cianjur, sangat antusias dengan kedua varietas anyar tersebut. Bahkan di lapangan kedua varietas tersebut bisa menghasilkan panen hingga 8 ton/ha. Padahal pada awal uji lokasi pada tahun 2001, hanya menghasilkan 6 ton/ha.

Bisa dibilang panen padi Code dan Angke telah sukses. Namun yang harus dilakukan untuk mendapatkan hati dari para petani adalah sosialisasi dan penyedian benih kedua varietas tersebut di setiap daerah, khususnya daerah endemis HDB. “Karena dengan  menggunakan varietas unggul seperti Angke dan Code, Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan produksi padi nasional sekaligus mensukseskan target pemerintah untuk swasembada beras,” ujar Sutrisno.

 

 

Sumber : Elfa Hermawan, Majalah Agrotek