Berita » Kunci Sukses Pengembangan Padi Hibrida

(adm/11 Jan 2007)

Perkembangan padi hibrida sudah terasa lebih baik. Kalangan  swasta pun sudah banyak yang melirik dalam pengembangan hingga pemasaran  jenis padi yang satu ini. Namun masih ada sebagian masyarakat yang bersikap hati-hati dalam menggunakan padi ini. Dan hal ini tidak selamanya salah karena pada kenyataannya ada beberapa kendala pada pengembangan padi  hibrida.

Kedala itu  antara lain adalah keterbatasan benih, kerentanan terhadap hama dan penyakit utama, dan ekpresi heterosis yang tidak stabil. Varietas padi hibrida yang telah dilepas pada umumnya (tentu saja tidak semuanya-red) rentan terhadap hama-penyakit utama seperti wereng coklat,  HDB, dan virus tungro.

Menurut Dr. Satoto, peneliti padi hibrida pada Balai Besar Penelitian Padi (BBP Padi), secara teknis ada lima kunci utama agar pengembangan padi hibrida berhasil. Kelima kunci tersebut adalah  1) varietas yang cocok; 2) benih yang bermutu; 3) teknologi budidaya yang tepat; 4) wilayah yang sesuai, dan 5) respon petani.

Sebenarnya setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di wilayah yang satu belum tentu cocok di wilayah yang lain. dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifik lokasi. Ketahanan terhadap hama penyakit dan memiliki mutu beras padi hibrida juga beragam. Karena itu pengembangan varietas hibrida untuk sekarang ini sebaiknya dilakukan terbatas pada daerah yang tidak termasuk daerah endemik hama dan penyakit tersebut.

“Arah dan sasaran utama perakitan varietas padi hibrida ke depan adalah untuk menghasilkan varietas yang benar-benar adaptif di Indonesia, tahan terhadap berbagai hama dan penyakit utama dengan mutu beras yang lebih baik,” ungkap Satoto kepada majalah Agrotek, beberapa waktu lalu di Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Litbang Pertanian Memiliki Calon Hibrida Tahan Wereng Coklat
Tentunya kelima kunci sukses tersebut bisa dihasilkan hanya dengan melakukan perakitan sendiri dengan memanfaatkan plasma nutfah nasional atau setidaknya menggabungkan galur tetua introduksi dengan galur nasional.

Selain varietas yang telah dilepas saat ini, Satoto menungkapkan BBP Padi juga memiliki beberapa galur pemulih kesuburan yang telah dijadikan tetua-tetua jantan dalam perakitan varietas unggul hibrida. Galur-galur yang telah ada bisa berpotensi produksi antara 7,0 ton/ha  hingga 11,7 ton/ha. Dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama. Selain berpotensi hasil tinggi, misalnya ada galur tahan wereng coklat biotipe 2, tahan terhadap wereng coklat biotipe 3,tahan penyakit hawar daun bakteri.

Selain padi hibrida, BBP Padi juga merakit varietas unggul tipe baru yang hasilnya 15-20% lebih tinggi daripada varietas unggul biasa. Melalui berbagai persilangan yang dilakukan selama 3-5 tahun, di BBP Padi juga terdapat sejumlah galur padi tipe baru. Galur-galur tersebut berpoptensi dijadikan sebagai tetua dalam perakitan varietas unggul hibrida.

Melalui program backcross (silang balik) telah berhasil diidentifikasi beberapa galur padi tipe baru yang dapat dikonversi menjadi Galur Mandul Jantan. Di samping itu, beberapa galur juga diidentifikasi sebagai restorer. Jika potensi ini dapat diaktualisasikan dalam proses perakitan varietas maka akan diperoleh varietas unggul Padi  hibrida yang diharapkan mampu berproduksi lebih tinggi dari varietas unggul padi hibrida maupun varietas unggul padi tipe baru.

 

Sumber berita : Elfa Hermawan (Majalah Agrotek) 

 

Padi Hibrida