Berita » Info Aktual » Indonesia Segera Memiliki Hybrid Research Center

(adm/14 Nop 2006)
Penandatanganan MoU Padi Hibrida

Indonesia rencananya dalam waktu enam bulan ke depan akan memiliki Hybrid Research Center. Hal ini menjadi salah satu butir kerjasama yang dilakukan Indonesia dan Cina di bidang pengembangan padi hibrida di Indonesia.

"Cina adalah negara yang berhasil mengembangkan padi hibrida di negaranya, maka dengan kerja sama ini diharapkan  kita bisa menemukan benih unggul dalam negeri yang sesuai dengan iklim Indonesia, " kata Menteri Pertanian Dr. Anton Apriyantono usai menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Guo Hao Seed Industry (Cina), PT. Sumber Alam Sutera  dan Balai Besar Penelitian Padi (BB Litpa), Senin (13/11) kemarin.

Menurut Anton, berbagai pengujian di Indonesia menunjukkan bahwa padi hibrida memiliki daya hasil 10-20% lebih tinggi dibanding varietas populer saat ini, seperti IR64, Ciherang, dan Way Apo Buru. Jika keunggulan ini bisa dirasakan di Indonesia, maka hibrida akan berperan besar dalam meningkatkan produksi padi nasional dan meningkatkan pendapatan petani.

Indonesia akan mengimpor benih F1 milik Guo Hao Seed Industry untuk memudahkan para peneliti menghasilkan benih F1 dalam negeri sendiri. Hal ini dilakukan melihat produksi tertinggi yang dicapai Indonesia untuk padi hibrida adalah 12 ton/ha, sedangkan Cina bisa mencapai 20 ton/ha.

Menurut Anton, Badan Litbang Pertanian selama ini telah menghasilkan varietas hibrida yang unggul. Dengan dilakukannya kerja sama ini, akan membuat semakin yakin bahwa Indonesia nantinya bisa mengekspor benih padi Hibrida.  "Saya optimis tiga tahun nanti Indonesia bisa meningkatkan produksi beras dalam negeri sebanyak 2 juta ton/tahun," ungkap Anton seperti yang disampaikan pada wartawan Agrotek, Elfa Hermawan. Bahkan  menurutnya, ketahanan pangan Indonesia semakin kuat dengan didukung oleh padi hibrida.

Dalam acara penandatanagan ini hadir pula Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Achmad Suryana, Sekretaris Badan Litbang Dr. Haryono, Kepala Balai Besar Penelitian Padi Dr. Hasil Sembiring, Direktur KP-KIAT  Dr. Toto Sutater dan beberapa pakar padi hibrida Badan Litbang Pertanian.