Berita » Lain-lain » BPTP Lampung Perjuangkan Petani Dalam Pemasaran Kakao Fermentasi

(adm/09 Jul 2006)
Temu Bisnis Kakao yang diselenggarakan BPTP Lampung

Pemasaran hasil kakao fermentasi yang dihargai sama dengan produk kakao asalan (non-fermentasi) yang berkualitas rendah merupakan kendala utama dalam usahatani kakao di Lampung. Usaha mengatasi masalah tersebut telah diinisiasi oleh BPTP Lampung dengan menyelenggarakan forum temu bisnis yang dilaksanakan akhir Juni 2006  di Klinik Agribisnis Prima Tani, Desa Labuhan Ratu IV, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Sekitar 90 orang hadir dalam forum tersebut, seperti pengusaha a.l. dari ASKINDO Lampung, PT. General Food/Ceres Bandung, PT. Prama Nugraha Banten. Juga hadir pejabat dan staf dari instansi lokal dan pusat terkait, seperti dari bappeda, Dinas Perkebunan, Puslitbang Perkebunan , BPTP Lampung, termasuk peneliti, penyuluh maupun petaninya itu sendiri.

Kepala BPTP Lampung, Dr. Zulkifli Zaini, menegaskan BPTP Lampung akan terus memperjuangkan petani untuk memasarkan produknya kepada pengusaha, a.l. melalui forum temu bisnis, baik di Lampung sendiri maupun di forum-forum lainnya. Dari sisi produk, Ir. Firdausil Akhyar Ben, M.S., peneliti BPTP, menyatakan bahwa petani setempat sudah mampu melalukan fermentasi kakao dengan standar SNI 01-2323-2002, hanya saja untuk memprodusi massal perlu ada kesepakatan (MoU) jual beli.

Dalam diskusi terungkap keberatan Ketua Gapoktan Mutiara Prima tentang selisih harga jual kakao fermentasi dengan non-fermentasi yang relatif tidak besar. Selisih harga yang kecil itu tidak dapat menutup ongkos produksi kakao fermentasi mengingat waktu yang dibutuhkan, tenaga dan biaya proses tambahan fermentasi tidaklah sedikit.

Ketua DPD Askindo mengungkapkan kesiapannya untuk membina para petani agar produknya dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Pola pembinaannya dapat mengikuti pola PIR. Pengusaha tidak membeli kakao dari petani karena dinilai masih dibawah standar akibat SNI tidak diterapkan secara benar. Selama ini untuk memenuhi kebutuhannya, para pengusaha mengimpor kakao dari luar negeri, khususnya dari Pantai Gading dan Ghana. Sedangkan apabila diekspor, produksi kakao dalam negeri diragukan kontinyuitasnya maupun standar mutu yang dihasilkan.

Temu bisnis ini merupakan rangkaian kegiatan Prima Tani di Lampung yang sudah dimulai sejak tahun 2005. BPTP Lampung pun membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mutiara Prima untuk memperkuat posisi tawar dan memudahkan koordinasi dalam pemasaran produk kakao.

 
Respon positif
Terkait program Prima Tani, Camat Labuhan Ratu memberikan respon positif terhadap kegiatan ini yang ditunjukkan dengan membantu lahan untuk Klinik Agribisnis dan bangunan gudang kakao dari dana Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Disamping itu, selalu mendorong petani dan perangkat desanya untuk mensukseskan program Prima Tani. Seperti diungkapkan camatnya, Kecamatan Labuhan Ratu siap menerima pengusaha yang akan berinvestasi mengembangkan kakao dengan bekerjasama dengan Gapoktan di daerah ini mengingat sudah tersedianya infrastruktur transportasi yang cukup lancar.

Dalam kesempatan yang sama, anggota Tim Teknis Pusat Prima Tani, Prof. Dr. Zainal Machmud,  memberikan apresiasinya yang tinggi terhadap BPTP Lampung karena telah mampu menyelenggarakan forum temu bisnis sebagai sarana komunikasi antara pengusaha dan petani kakao, mengingat program Prima Tani di Lampung baru berjalan kurang dari dua tahun. Ini menandakan implementasi Prima Tani di Lampung telah memperlihatkan hasilnya. Ditegaskan pula, Badan Litbang Pertanian sebagai koordinator Program Prima Tani hanya menginisiasi saja, sedangkan utuk pengembangan lebih lanjut dibutuhkan peran yang besar dari pemerintah daerah setempat.

 

Diolah dari situs web Prima Tani