Berita » Aplikasi Radio Isotop Menjadi Sangat Penting

(hms/19 Okt 2013)

Menyadari manfaat aplikasi radiasi isotop dalam bidang pertanian, khususnya untuk bidang pemuliaan tanaman, peternakan, pasca panen, hidrologi dan konservasi lahan, Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) bersama-sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengadakan Workshop Sinergi Program Penelitian Pemanfaatan Radiasi Isotop di Bidang Pertanian (16/10) di Jakarta.

Pada workshop tersebut juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk lebih menyinergikan kembali kegiatan dan program-program yang telah dilakukan selama ini baik oleh Balitbangtan, BATAN, Ristek maupun Perguruan Tinggi dalam mendukung pembangunan pertanian di Indonesia.

Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono dalam sambutannya saat membuka acara ini menjelaskan bahwa tantangan pembangunan pertanian ke depan semakin kompleks karena jumlah penduduk yang terus meningkat, semakin terbatasnya ketersediaan lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan, terjadinya perubahan iklim, persaingan pasar global (AFTA 2015), serta meningkatnya permintaan produk-produk pertanian dengan jaminan mutu yang baik, menjadikan pemanfaatan aplikasi radio isotop menjadi sangat penting.

Dr. Haryono juga menjelaskan bahwa lembaga penelitian di tingkat global memahami bahwa ada tiga hal yang penting yang harus dilakukan yaitu bio-science, teknologi/inovasi yang mampu merespon perubahan iklim dan aplikasi informasi teknologi (IT).

“Dimana aplikasi isotopnya? Tentunya ada di semua aspek dari tiga hal tersebut,” ujar Dr. Haryono.

Dalam sambutannya Kepala BATAN Prof. Djarot Sulistiyo Wisnubroto mengharapkan agar kesempatan ini mampu menciptakan networking, bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dari BATAN, mengingat Balitbangtan mempunyai BPTP di seluruh Provinsi.

Staf Ahli Ristek Bidang Pertanian Prof. Dr. Ir. Benyamin Lakitan ketika memberikan paparannya menjelaskan bahwa tantangan dan peluang peningkatan kontribusi teknologi di bidang pertanian persoalannya menjadi lebih berat, terutama untuk tanaman pangan. Hal itu karena harga komoditas pangan (dijaga agar tetap) murah, maka teknologi yang layak digunakan petani pangan adalah teknologi yang ‘super murah’ tetapi tetap handal, kompetitif, dan menguntungkan.

Murah bukan hanya investasi awal, tetapi murah juga dalam biaya operasionalnya. "Kemudian aplikasi nuklir di sektor pertanian dapat menjadi pilihan jika mampu menghasilkan varietas unggul dengan biaya lebih murah, dapat digunakan untuk pengawetan pangan dengan biaya murah pula,” kata Benyamin.

Workshop Radiasi Isotop