Berita » Badan Litbang Pertanian sebagai Learning Organization

(adm/11 Peb 2013)

MAKASAR - Empat target sukses Kementerian Pertanian, telah begitu jelas dan langkahnya semakin nyata.  Terkait dengan hal ini, Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono mengungkapkan keyakinannya bahwa Badan Litbang Pertanian secara bertahap akan menghasilkan inovasi pertanian untuk mencapai target yang telah ditentukan.

“Sebagai sebuah organisasi yang belajar (learning organization), Badan Litbang Pertanian senantiasa meng-upgrade kemampuan keilmuannya”, demikian disampaikan Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono pada saat penutupan Temu Koordinasi Peneliti, Perekayasa dan Penyuluh di Makasar (Minggu, 10 Feb 2013).   Tahun 2013 ini Badan Litbang Pertanian berkewajiban menyiapkan Rencana Strategis 2015-2019 secara lebih jelas dan terukur.

Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian senantiasa melaksanakan 6 (enam)  sistem manajemen yaitu : 1). Manajemen Program dan Anggaran harus mempunyai muatan akademik yang tinggi; 2) Manajemen SDM harus dikelola secara profesional; 3). Manajemen Sarana dan Prasarana perlu pengelolaan yang cerdik dan cermat; 4). Manajemen Keuangan harus tertib administrasi dan dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada; 5). Manajamen Waktu harus merespon kebutuhan masyarakat dan 6). Manajemen Mindset harus mempunyai target yang sama. 

Lebih lanjut Dr. Haryono menyampaikan "Learning organization akan berkembang dengan baik jika kita punya knowledge management".  Hasil inovasi penelitian yang telah dihasilkan harus dikelola dengan baik.  Agar dapat dilakukan pengelolaan data dan filling system yang baik maka peran Teknologi Informasi sangat penting. 

Salah satu rumusan penting dari pertemuan tersebut diantaranya adalah Reorientasi Litbang dalam Manajemen Korporasi memasuki Era “Second Curve” .  Badan Litbang Pertanian mencakup: re-orientasi program, re-orientasi manajemen dan budaya, dan re-orientasi SDM. Dalam implementasinya, Badan Litbang telah melakukan reorientasi kebijakan sentralisasi ke arah desentralisasi, pengembangan komoditas ke sumber daya, budidaya ke usaha agribisnis, isu nasional ke isu spesifik lokasi, dan reorientasi prioritas produksi ke prioritas berdasar permintaan pasar.

Pada acara penutupan tersebut dilakukan pembacaan dan penandatanganan IKRAR peneliti, perekayasa dan penyuluh Badan Litbang Pertanian sebagai tonggak awal sinergisme antar peneliti-perekayasa-penyuluh dalam membangun kerjasama dan networking untuk melaksanakan kegiatan penelitiannya.  Acara penutupan tersebut juga dimeriahkan dengan aneka pertunjukan seni budaya khas Makassar.