Berita » Varietas Lokal Sudah Sesuai untuk Indonesia
Turunnya produksi kedelai terjadi karena usahatani kedelai tidak memberikan keuntungan yang memadai, disamping itu tidak mudahnya petani dalam menjual hasil panennya di pasar terlebih karena harga dasarnya belum ditetapkan. Alhasil, petani lebih mengusahakan komoditas yang menguntungkan.
Dr. Muchlish Adie, Kepala Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian yang juga merangkap sebagai peneliti dalam keterangan persnya menyampaikan bahwa, rendahnya produksi kedelai di Indonesia disalah persepsikan dengan kedelai tidak sesuai untuk daerah tropis. Fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa varietas lokal tertentu misalnya Anjasmoro dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu kedelai bisa panen dalam umur 85-90 hari, produksinya 1,8-2,2 t/ha, sedangkan di Amerika umur panen 160-170 hari dan produksinya 2,9 t/ha.
Berbagai teknologi budidaya kedelai telah disiapkan Badan Litbang Pertanian untuk mendukung swasembada kedelai tahun 2014, termasuk penguatan penyediaan benih sumbernya melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) sebagai unit produksi benih yang ada di setiap Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di seluruh propinsi.
Hampir 90% varietas kedelai yang ditanam di Indonesia merupakan varietas yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Hingga saat ini telah dilepas 73 varietas kedelai. Varietas yang populer ditanam petani adalah Anjasmoro, Kaba, Sinabung, Argomuyo dan Grobogan.
Akhir 2012 dijadwalkan akan dilepas varietas kedelai yang tahan kekeringan pada fase repropuktif yang akan diberi nama DERING artinya kedelai yang toleran kekeringan. Varietas ini mempunyai potensi hasil 2,83 t/ha umur masak 81 hari.
Sumber: Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian
Berita Terkait :
- Sharing Ide untuk Masa Depan Kedelai (6/9/2012)
- Kedelai Dering 1, Dirakit untuk Lahan Kering (4/9/2012)
