Berita » Sorgum Untuk Pangan dan Bioetanol

(hms/24 Jul 2012)

Sorgum merupakan tanaman serealia potensial untuk dikembangkan untuk menunjang program ketahanan pangan dan agribisnis mengingat daya adaptasinya yang luas serta kebutuhan airnya rendah. Beberapa keunggulan sorgum antara lain adalah daya adaptasi luas pada berbagai agroekologi (pantai hingga pegunungan), kebutuhan airnya sedikit sekitar 150-200 mm/musim (separuh kebutuhan air jagung, sepertiga kebutuhan air tebu), tahan pada lahan marjinal seperti lahan masam, asin dan basa, dapat tumbuh pada tanah miring, dan lebih tahan hama penyakit.

Sorgum merupakan tanaman yang multifungsi karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bioetanol. Komposisi kimia biji sorgum tidak banyak berbeda dengan beras atau terigu. Kandungan karbohidrat sorgum sebesar 73,8% (beras = 76% dan terigu 77%), protein 9,8% (beras 8% dan terigu 12%). Komposisi kimia sorgum yang mirip dengan beras atau terigu merupakan indikasi bahwa sorgum dapat mensubtitusi beras karena nilaig izinya tinggi, tepung sorgum juga dapat dijadikan cake, cookies dan bahan baku industry (glukosa, MSG, Asam laktat). Nira batang sorgum merupakan sumber bioetanol, dan ampas batang  dan daun dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Perakitan varietas sorgum secara umum diarahkan pada 2 tujuan utama yaitu perakitan sorgum untuk pangan (hasil tinggi warna putih) serta untuk produksi bioetanol (rendemen etanol tinggi). Badan Litbang Pertanian telah merilis 2 varietas sorgum untuk pangan  yaitu Varietas Numbu (umur panen 100 hari, hasil biji 3,1 t/ha dan panjang malai 23 cm), serta Varietas Kawali  (umur panen 100 hari, hasil biji 2,9 t/ha dan panjang malai 28 cm).

Badan Litbang juga giat mengembangkan sorgum manis untuk produksi bioetanol. Eksplorasi potensi etanol sorgum manis diperoleh dari nira batang sorgum, bagase dan biji. Nira adalah cairan yang diperoleh dari hasil perasan batang sorgum manis, sedangkan bagase adalah ampas hasil perasan batang sorgum dalam bentuk sellulosa yaitu polisakarida yang dididrolisis menjadi monosakarida seperti glukosa, sukrosa dan bentuk gula lainnya yang kemudian dikonversi menjadi etanol. Sedangkan sumber etanol dari biji adalah pati yaitu karbohidrat yang berbentuk polisakarida  berupa  polimer  anhidromonosakarida,  dimana  komponen  utama  penyusun  pati adalah  amilosa  dan  amilo-pektin yang masing masing tersusun  atas  satuan  glukosa (rantai glukosida) yang  kemudian dikonversi menjadi etanol.

Terdapat 2 galur potensial untuk produksi bioetanol (Water Hammu Putih dan 15011B) dengan total hasil bioetanol dari biji, bagase dan nira sebesar 4000 liter/ha. Kedua galur sorgum tersebut direncanakan dilepas pada tahun 2012 ini. Produksi bioetanol dari sorgum manis dapat ditingkatkan lagi apabila kemampuan ratun dari sorgum manis dimanfaatkan secara optimal. Potensi ratun sangat menjanjikan utamanya pada lahan kering dimana tanaman palawija lain sudah tidak bisa tumbuh, namun sorgum ratun mampu tumbuh dengan baik tanpa harus mengolah tanah dan menanam lagi.  Badan Litbang Pertanian juga sedang melakukan uji multi lokasi sorgum hibrida untuk perbaikan potensi hasi dari 3 t/ha (komposit) menjadi >6 t/ha.    

Sorgum yang telah diolah menjadi etanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah dengan kadar etanol 40-60%, untuk kebutuhan laboratorium dan farmasi 70-90%, dan sebagai bahan substitusi premium 90-100 persen. Pabrik etanol dalam skala yang relatif terbatas, khususnya yang menghasilkan produk sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah, sudah berkembang di beberapa daerah di Jawa dengan potensi produksi 100-200 liter per hektar. Hal ini penting artinya bagi masyarakat di daerah yang tidak terjangkau atau sulit memperoleh gas sebagai bahan bakar. Kompor etanol yang sudah mulai diproduksi dengan harga terjangkau, berkisar antara Rp. 50-150 ribu per unit.

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal)

Sorgum