Berita » Kentang Transgenik Tahan Hawar Daun

(adm/28 Peb 2007)

Penyakit Late Blight atau yang biasa dikenal hawar daun pada kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan penyakit yang sering menjadi kendala dalam budidaya kentang. Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans, penyakit ini menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kentang di Indonesia.

Penyakit hawar daun sangat merusak dan sangat sulit dikendalikan, karena Phytophthora infestans merupakan jamur patogen yang memiliki patogenitas yang beragam. Pada umumnya patogen ini berkembang biak secara aseksual dengan zoospora, tetapi dapat juga berkembang biak secara seksual dengan oospora. Jamur  ini bersifat heterolik, artinya perkembangbiakannya secara seksual atau pembentukan oospora-nya hanya terjadi bila adanya perkawinan silang antara dua isolat Phytophthora infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda.

Saat ini di Indonesia belum terdapat varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun, sehingga menyulitkan petani untuk menghindari penyakit ini. Namun beberapa tahun terakhir ini sudah ada usaha dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), yang bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian baik dalam maupun luar negeri untuk mendapat calon varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun.

Program penelitian mengenai penyakit kentang ini didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) melalui proyek Agricultural Biotechnology Support Project phase II (ABSP II).  Penelitian ini melibatkan beberapa lembaga penelitian terkemuka, seperti Universitas Cornell, Universitas Wisconsin dan Virginia Tech, yang ketiganya berlokasi di Amerika Serikat. Selain itu, lembaga penelitian lainnya seperti PICTIPAPA (Meksiko), CPRI (India) dan ISAAA juga terlibat dalam riset. Sedangkan di dalam negeri, BB Biogen menjalin kerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Dengan dukungan dana dan sinergisme antar lembaga penelitian diharapkan dari kegiatan ini dapat dihasilkan suatu rakitan kentang Indonesia yang tahan terhadap penyakit hawar daun.

"Sekarang ini di Indonesia belum terdapat kentang yang tahan terhadap late blight, untuk itu diharapkan nanti terdapat calon varietas tahan penyakit tersebut yang kita hasilkan", ungkap Dr. M. Herman, peneliti dari BB Biogen kepada Majalah Agrotek, akhir Januari lalu di kantornya. Saat ini memang sudah ada kentang transgenik yang tahan terhadap penyakit hawar daun, namun varietas ini bukan asli Indonesia, melainkan hasil penelitian Universitas Wisconsin yang diberi nama varietas Katahdin Transgenik.

Varietas Katahdin merupakan kentang transgenik yang berhasil dikembangkan oleh Universitas Wisconsin yang memiliki gen RB, yaitu sebuah gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun. Gen RB tersebut dihasilkan dari isolasi gen yang terdapat pada kerabat kentang liar (Solanum bulbocastanum) yang banyak terdapat di Amerika.

Untuk menghasilkan kentang transgenik tahan penyakit hawar daun, BB Biogen melakukan kerjasama dengan Universitas Wisconsin yang tertuang dalam sebuah kesepakatan (Material Transfer Agrimeent - MTA). Dengan kesepakatan tersebut, BB Biogen berhak menggunakan varietas Katahdin Transgenik untuk disilangkan dengan kentang varietas lokal. Saat ini, BB Biogen dan Balitsa tengah menyilangkan kentang Katahdin Transgenik dengan dua varietas lokal, yaitu Granola dan Atlantic. Kedua varietas lokal tersebut dipilih untuk persilangan karena varietas tersebut paling digemari petani. Selain memiliki hasil produksi yang tinggi, Granola dan Atlantic cukup laku di pasar tradisional maupun pasar swalayan.

Sementara itu, Dr. Achmad Suryana menjelaskan terdapat dua strategi untuk mendapatkan kentang yang tahan terhadap late blight. Pertama, menyilangkan dengan Katahdin; dan kedua dengan memasukkan atau mentransformasi gen RB ke dalam kentang. Bioteknologi transgenik ini bisa membantu ketahanan pangan karena varietasnya lebih unggul (Republika Online, 15/2).

 

 

Sumber berita :
* Elfa Hermawan, wartawan Majalah Agrotek
* Republika Online, 15 Pebruari 2007

Kentang