Berita » Lain-lain » Teknologi Agrobisnis Belum Banyak Dikenal Masyarakat Petani

(adm/13 Jul 2006)

Jakarta, 12/7/2006 (Kominfo-Newsroom) – Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, banyak lembaga penelitian di Indonesia telah mampu menghasilkan teknologi agrobisnis tetapi hasil penelitan tersebut belum dikenal secara luas oleh masyarakat khususnya petani.

Oleh karena itu, perlu dibangun sistem inovasi yang mampu mempercepat transfer inovasi yang berasal dari lembaga penelitian kepada pengguna,” kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada simposium riset teknologi pertanian agrobisnis Indonesia di Jakarta, Rabu (12/7).

Untuk itu Badan Litbang Pertanian (Balitbang) mempunyai suatu model atau konsep baru diseminasi teknologi yang dinilai dapat mempercepat penyampaian informasi dan bahan inovasi baru dengan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani).

Mentan Anton menambahkan, Prima Tani diharapkan dapat berfungsi sebagai jembatan penghubung langsung antara Balitbang Pertanian sebagai penghasil inovasi dengan lembaga penyampaian (delivery system) maupun pelaku bisnis (receiving system) pengguna inovasi.

Selain sebagai wahana diseminasi, Prima Tani juga akan digunakan sebagai wahana pengkajian partisipatif, yang berarti merupakan implementasi dari paradigma baru Badan Litbang Pertanian, yakni penelitian untuk membangun menggantikan paradigma lama penelitian dan pengembangan.

Pada tahun 2006 ini Prima Tani dilaksanakan di 25 provinsi yang mencakup 32 kabupaten, sedangkan untuk tahun 2007 akan dilaksanakan di seluruh provinsi mencakup sebagian besar kabupaten, katanya.

Selama ini Badan Litbang Pertanian telah cukup berhasil dengan berbagai kiprahnya dalam pengadaan inovasi pertanian dan setiap tahun menghasilkan sejumlah inovasi tepat guna, dan banyak diantaranya telah digunakan secara luas dan terbukti menjadi tenaga pendorong utama pertumbuhan dan perkembangan usaha dan sistem agribisnis padi dan jagung, seperti penemuan varietas unggul baru berumur pendek dan perkembangan perkebunan sawit yang cukup pesat.

Namun demikian, kata Menteri Pertanian Anton, evaluasi eksternal maupun internal menunjukan bahwa kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan Balitbang Pertanian cenderung melambat bahkan menurun.

Menurut hasil penelitian, diperlukan waktu sekitar dua tahun sebelum teknologi baru pertanian diketahui oleh 50 persen dari penyuluh pertanian spesialis (PPS) dan enam tahun sebelum 80 persen PPS mendengar teknologi tersebut.

Tenggang waktu sampainya informasi dan adopsi teknologi tersebut oleh petani tentu lebih lama lagi, segmen rantai pasok inovasi pada subsitem penyampaian (delivery subsystem) dan subsistem penerima (receiving subsistem) merupakan kendala yang menyebabkan lambannya penyampaian informasi dan rendahnya tingkat adopsi inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. (T.Bhr/Toeb)

 

Disadur dari situs web BIPNewsRoom.info