Berita » Peraturan Baru Jabatan Fungsional Peneliti

(adm/08 Okt 2004)

Siapa yang tidak mengenal institusi bidang penelitian dan pengembangan? Hampir semua Departemen memiliki divisi penelitian dan pengembangan. Banyak pejabat tinggi yang memulai karir dari jenjang peneliti. Banyak pula departemen yang memilih susunan stafnya dari unsur peneliti. Pekerjaan meneliti telah membimbing siapa saja untuk selalu lebih cermat dari orang lain, sehingga tidak heran kalau banyak peneliti sukses meniti karir.

Pada sepuluh tahun terakhir ini berbagai sarana baru di instansi pemerintah termasuk lembaga penelitian semakin membaik. Hampir semua sarana dan peralatan serba digital, komputerisasi dan serba cepat. Menghadapi hal itu diperlukan peraturan-peraturan baru khususnya di bidang pemerintahan termasuk penelitian dan pengembangan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Feisal Tamim, melalui Surat Keputusan Nomor: KEP/128/M.PAN/9/2004 tanggal 6 September 2004, mengumumkan peraturan baru jabatan fungsional peneliti. Surat Keputusan tersebut mulai berlaku sejak ditetapkan di Jakarta dan para peneliti diharapkan mulai menyesuaikan diri dengan peraturan baru tersebut.

Selama ini penghitungan angka kredit peneliti mengikuti peraturan lama yang tercantum dalam SK MENPAN No. 01/MENPAN/1983 tentang angka kredit bagi jabatan peneliti. MENPAN melihat mulai tahun ini perlu penyesuaian baru sehingga diterbitkan SK baru yang mengatur angka kredit peneliti.

Surat Keputusan MENPAN yang baru secara rinci menjelaskan hak dan kewajiban PNS yang mempunyai jabatan fungsional peneliti. SK baru ini pun dilampiri dengan tabel perhitungan detail angka kredit peneliti. Misalnya saja untuk seorang bergelar doktor baru lulus dari sebuah perguruan tinggi bila diterima menjadi peneliti, angka kredit untuk ijazahnya sebesar 200, untuk yang bergelar master nilai kreditnya 150 dan ijazah sarjana sebesar 100. Angka-angka tersebut berguna untuk menentukan jabatan fungsional dalam kegiatan penelitian. Jenjang jabatan peneliti dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi adalah Peneliti Pertama (golongan IIIa - IIIb), Peneliti Muda (golongan IIIc - IIId), Peneliti Madya (golongan IVa IVc), dan Peneliti Utama (golongan IVd IVe).

Selain ijazah dari pendidikan dan pelatihan formal, angka kredit dapat pula diperoleh dari berbagai kegiatan lain yang menjadi tugas pokoknya. Tugas-tugas penelitian yang menghasilkan buku, karya tulis ilmiah (jurnal), dan makalah mendapat angka kredit tersendiri. Demikian pula pekerjaan pengembangan iptek, termasuk pengembangan teori, konsep, produk, prototipe dan paten ada perhitungan angka kredit tersendiri.

Pekerjaan lain yang dapat menambah angka kredit a.l. diseminasi pemanfaatan iptek, pembinaan kader peneliti, penghargaan ilmiah dan penugasan untuk memimpin unit kerja litbang, dan berbagai tugas penunjang penelitian lainnya. Pelatihan-pelatihan sederhana yang memberikan sertifikat kelulusan juga dapat menambah angka kredit, selama pelatihan tersebut ada kaitan dengan tugas pokok penelitian.

Peneliti berprestasi bisa mendapatkan kredit poin bila pemimpin unit kerja penelitian melalui sebuah SK Khusus, misalnya, yang bersangkutan ditunjuk sebagai ketua delegasi ke pertemuan ilmiah internasional. Membina kader ilmiah pun mendapat angka kredit, misalnya, peneliti ikut membimbing mahasiswa hingga mencapai gelar doktor atau gelar sarjana lainnya. Selain itu, karya ilmiah berupa skripsi, tesis dan disertasi juga mendapat angka kredit bagi peneliti pembimbing tersebut.

Tanda jasa yang diberikan pemerintah karena sudah puluhan tahun mengabdi sebagai peneliti bisa diusulkan mendapat angka kredit. Kegiatan yang banyak menarik minat peneliti --yaitu mengajar di perguruan tinggi-- dapat menambah angka kredit peneliti, asal dilengkapi dengan Surat Keterangan Mengajar.

Kesempatan untuk belajar lagi bagi peneliti tetap terbuka luas, dan yang berhasil lulus untuk S3 angka kredit bertambah 15 poin. Untuk yang berhasil lulus S2 dan S1 masing-masing dapat bertambah angka kreditnya 10 dan 5 poin.

Profesi peneliti menuntut banyak kemampuan lebih, bahkan tidak jarang peneliti jatuh sakit karena sibuk dengan tugas-tugasnya. Surat Keputusan MENPAN ini mengatur hal tersebut, a.l., secara rinci peneliti dapat dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu 5 tahun sejak menduduki jabatan atau pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan jabatan atau pangkat setingkat lebih tinggi. Dan apabila setelah 5 tahun masih belum bisa mengumpulkan angka kredit masih diberi kesempatan 1 tahun lagi. Bila dalam 1 tahun tersebut tetap belum bisa menambah angka kredit maka peneliti tersebut akan diberhentikan seterusnya.

Khusus untuk peneliti utama, golongan IV/e dapat dibebaskan sementara dari jabatan apabila setiap 2 tahun sejak menduduki jabatan atau pangkatnya tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 25 dari kegiatan penelitian dan atau pengembangan. Dan angka tersebut akan dinilai oleh LIPI apabila APU golongan IVe tersebut tidak memiliki sertifikat orasi ilmiah APU.

Peneliti dapat dibebaskan sementara dari jabatannya apabila, (1) Dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat berat berupa penurunan pangkat, (2) Diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil, (3) Ditugaskan secara penuh di luar unit penelitian dan atau pengembangan, (4) Menjalani cuti di luar tanggungan negara, (5) Menjalani tugas belajar lebih dari 6 bulan. Profesi meneliti berkaitan dengan mengungkap sesuatu yang belum diketahui, dengan bekal ilmu pengetahuan mencari alternatif teknologi baru agar kehidupan menjadi lebih baik. Diperlukan sumberdaya manusia dengan indeks prestasi yang lebih baik agar bisa diterima menjadi peneliti.

 

download: SK Men PAN No. KEP/128/M.PAN/9/2004 (Bagian 1), (Bagian 2), (Bagian 3), (Bagian 4), (Bagian 5), (Lampiran 1), dan (Lampiran 2).