Inovasi Teknologi

Padma Buana

Padma Buana Umur mulai berbunga 52-56 hari setelah tanam, Warna bunga merah muda, Tinggi tanaman 104-119,7 cm, Diameter kuntum bunga 7.6-8.1 cm, Tipe bunga spray, Jenis bunga potong, Ketahanan mekar dalam vas 10-12 hari, beradaptasi dengan baik di dataran sedang hingga tinggi dengan altitude 700-1.200 m dpl

SDM Profesional

Prof. (Riset). Dr. Ir. Djoko Said Damardjati, MS

Prof. (Riset). Dr. Ir. Djoko Said Damardjati, MS Djoko Said, pria, kelahiran Solo pada tanggal 12 Mei 1948, adalah anak pertama dari 5 bersaudara putera Bapak Sayid Ruslan Damardjati (Alm.) dan Ibu Sri Suyono (Almh). Peneliti Pengolahan Hasil Pertanian ini bekerja di Puslibang Tanaman Pangan pada kelompok Penelitian Analisis Kebijakan Pangan.

Setelah menempuh pendidikan di SD, SMP dan di SMA di Yogyakarta, ia diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB), melalui proses penelusuran bakat. Gelar sarjana di peroleh dari Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian IPB (Ir., 1972), dan gelar magister sains diperoleh dari Sekolah Pascasarjana IPB (MS, 1978). Dalam menempuh pendidikan S3, dia mengikuti program sandwich kerjasama IPB, Universtas Filipina di Los Banos (UPLB) dan Lembaga Peneltian Padi Internasional (IRRI), dengan melaksanakan kuliah dan penelitian di UPLB dan IRRI selama 1 tahun. Gelar Doktor diperoleh dari Sekolah Pascasarjana IPB (S3, 1983) dengan predikat Cum-Laude.

Pengalaman kerja sebagai peneliti diawali pada tahun 1973, sebagai tenaga kontrak, di Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi yang sekarang menjadi Balai Besar Penelitian Padi. Djoko Said mengawali Jenjang fungsional sebagai Asisten Peneliti Muda (1982), kemudian melompat menjadi Peneliti Muda (1986), Ahli Peneliti Muda (1988), dan akhirnya mencapai jenjang Ahli Peneliti Utama (1992). Orasi Ilmiah dia sampaikan didepan Dewan APU untuk pengukuhan sebagai APU pada tahun 1995. Gelar Profesor Riset di peroleh pada tahun 2006, dan dia merupakan Profesor Riset ke-4 di Badan Litbang Pertanian dan ke-16 di tingkat Nasional. Dia menekuni dan mendalami khusus di bidang kimia, fisikokimia dan karekteristik beras selama 20 tahun, yang kemudian melebar pada aspek pasca panen di komoditi tanaman pangan lainnya.

Dalam kegiatan manegemen dan koordinasi penelitian, dia pernah sebagai Koordiantor Program Pascapanen Pertanian (1984 – 1992), Ketua Jaringan Pascapanen Pertanian Badan Litbang Pertanian (1988 – 1998), Anggota Panel dan Penilai RUT dari Men Ristek (1994 – 1998), aggota tim penilai “in house program” dari DRN (1993 – 1998), dan anggota tim penilai jabatan peneliti (P2JP) tingkat nasional (1998 – 2004). Dalam kegiatan kerjasama penelitian internasional, Djoko Said pernah sebagai penanggung jawab penelitian: ASEAN-ECC dalam pengeringan padi (1985 – 1988), AARD-ACIAR dalam utilisasi kacang gude (1985 – 1989), ASEAN-Australia dalam penghitungan susut padi di pedesaan (1985 – 1987), AARD-NRI UK dalam pengembangan energi surya untuk pengeringan padi (1989 – 1991). Dia juga aktif sebagai anggota pengarah dalam international networking seperti ARBN dalam bioteknologi padi (1995 – 1999), AMBIONET dalam bioteknologi jagung (1998 – 2000), IBC, kosursium bioteknologi (1997 – 2001).

Selama bekerja, Djoko Said telah mengikuti berbagai pelatihan di dalam maupun di luar negeri, antara lain sebagai “Post masternal research fellow” di di Departemen Kimia, IRRI, Filipina (1979 – 1980), Post doctoral research Fellow, di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, University of California, Davis, USA (1985 – 1986), mengikuti pelatihan managemen kekayaan intelektual di Bangkok (1997), pelatihan HAKI dan Transfer Teknologi di MSU, East Lansing MA, USA. (1998), Pelatihan HAKI dalam Bioteknologi di Cambera, Australia (1999), dan pendidikan diklat pimpinan untuk pejabat eselon III dan II.

Dalam kegiatan simposium, seminar, konferensi, workshop, maupun pertemuan di tingkat internasional, baik sebagai pembicara undangan, pemakalah, ataupun peserta, dia telah sering mengikuti antara lain di Amerika, Australia, Inggris, Belgia, Belanda, Mesir, Columbia, Meksiko, Brazilia, Jepang, Korea, PR-China, Filipina, India, Thailand, Laos, Brunei dan Malaysia. Di tingkat nasional, Djoko Said sering diundang sebagai pemakalah undangan, nara sumber atau pembicara dalam berbagai seminar, workshop, atau forum ilmiah lainnya. Ia juga aktif bekerjasama dengan berbagai Kementerian, LPND atau swasta, seperti: Ristek, LH, Bulog, Perdagangan, Perindustrian, LIPI, Kadin, lembaga kemasyarakatan dan asosiasi komoditi. Kerjasama dengan perguruan tinggi sebagai pengajar tidak tetap, pembimbing S2 dan S-3, penguji S-3, dan kegiatan penelitian telah dilakukan dengan IPB, UGM, Undip, Unsoed, UNS, Unibraw, serta beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta dan Jawa Timur.

Selain sebagai peneliti, Djoko Said juga pernah menduduki jabatan struktural, yaitu: Kepala Balai Penelitian Tanaman Pangan, Bogor (1993 – 1995), Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (1995 – 1999); Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (1999 – 2000); Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (1999 – 2001), Sekretaris Badan Litbang Pertanian (2001 – 2004), Kepala Puslitbang Tanaman Pangan (2004 – 2005), Direktur Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (2005 – 2008). Jabatan terakhir sebelum kembali sebagai fungsional peneliti, dia menjabat sebagai Sekretaris Jendral Asosiasi Negara-negara produsen karet alam (ANRPC) selama 3 tahun (2008 – 2011).

Dalam kegiatan pengembangan kelembagaan baru, Djoko Said berperan penting dalam pembentukan beberapa lembaga baru di Indonesia, yaitu: (1) lembaga penelitian bidang pasca panen Pertanian melalui kegiatan selaku ketua koordinator program penelitian pasca panen Pertanian (1984 – 1992); (2) lembaga penelitian dalam bidang bioteknologi, melalui pelaksana sebagai Kepala Balittan Bogor yang ditugaskan untuk membentuk dan memimpin Balitbio melalui serangkaian penataan kelembagaan yang rumit (1994 – 1999); (3) lembaga pengelola kekayaan intelektual dan alih teknologi, melalui peran selaku pendiri dan direktur pertama KP KIAT (1998-2001) dan (4) pembentukan Dewan-dewan komoditas yang mengacu UU 16 th. 2004 tentang perkebunan, selaku Dirjen PPHP, hingga terbentuknya Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) (2005 – 2008).

Dalam bidang regulasi, Djoko Said berperan aktif dalam: (1) penyusunan Undang-Undang Perlindungan Varietas, yang telah di undangkan pada tahun 2004; (2) Undang-undang Pangan yang diundangkan tahun 2003; (3) sebagai ketua tim pelepas varietas Kementerian Pertanian (2001-2003) dan (4) rancangan peraturan dan pedoman penanganan keamanan pangan dan keamanan hayati produk rekayasa genetik (1997 – 2001). Dalam usaha peningkatan inovasi penelitian dan alih teknologi, melalu KP KIAT, dia memulai dan berperan akitif dalam promosi HAKI dan alih teknologi di lingkup Badan Litbang dan nasional (1997 – 2001).

Sedangkan dalam kegiatan kerjasama dan negosiasi internasional, Djoko Said pernah selaku ketua delegasi program pertukaran ilmiah dalam bioteknologi (1997), Ketua bidang Pertanian DELRI ke WTO di sidang di Hongkong (2005), Jenewa(2006), Brasilia (2006), Ketua Delegasi Pertanian dalam negosiasi dengan Jepang (2006), Ketua Delegasi Indonesia dalam SOM kerjasama bilateral Indonesia-Malaysia (2006-2008), Keanggotaan dalam organisasi profesi baik nasional maupun internasional, dia juga pernah aktif sebagai anggota Perhimpunan Pangan dan Gizi (Pergizi Pangan), Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI), Himpunan Kimia Indonesia (HKI), Perhimpunan Biokimia Indonesia, Asosiasi Ahli Kimia Serealia Amerika, (AACC) Washington, USA; Asosiasi Kimia Serealia Internasional, (ICC) Wina Austria.

Sebagai peneliti, Djoko Said telah menghasilkan lebih dari 150 karya tulis ilmiah (KTI) yang ditulis sendiri atau bersama peneliti lain, yang dipublikasikan dalam jurnal, prosiding atau buku, baik yang bertaraf internasional maupun nasional. Dari berbagai hasil penelitian yang telah dihasilkan, antara lain penanganan susut pasca panen padi, penetapan umur panen padi optimum, penetapan hubungan karakteristik fisikokimia beras dengan mutu tanak nasi, model pengembangan agroindustri tepung kasava, model agribisnis kacang gude, model pengering padi tenaga surya dan sebagainya. Beberapa hasil penelitian ini ditindak lanjuti oleh instansi terkait untuk implementasi dan pengembangan lebih lanjut.

Djoko Said pernah mendapatkan penghargaan atas prestasi dan sumbangsihnya dalam bidang penelitian bagi pembangunan Pertanian, yaitu: 1) Poorwo Soedarmo Award, 1989 dari Pergizi Pangan; 2) “Ten Top Ranking of Post Doctoral Research Fellows, 1986, dari University of California, Davis, USA; 3) Satya Lencana Pembangunan, 1998, dari Presiden RI; 4) Distinguished Alumni Golden Award, 2007, dari Himpunan Alumni Fateta IPB dan 5) Satya Lencana Karya Satya 30 tahun, 2005, dari Presiden Republik Indonesia.

Kegiatan terakhir, sebagai Sekretaris Jendral ANRPC selama 3 tahun (2008 – 2011), Djoko Said telah mampu menumbuhkan kewibawaan asosiasi di mata stake holder di seluruh dunia, yang diikuti oleh meningkatkan jumlah anggota dari 9 menjadi 11 negara, dan terbitan ANRPC, Bulletin “Natural Rubber Trend and Statistics”, setiap bulan terbit akan selalu menjadi acuan berita dunia. Sekarang dia kembali melakukan dalam kegiatan analisis kebijakan pangan untuk bidang agro industri dan pasca panen, aktif dalam FKPR, serta sebagai Ketua Dewan Kakao Indonesia.

Djoko Said Damardjati, Puslitbang Tanaman Pangan, Jl. Merdeka 147, Bogor 161111. Telpon: +62 0251 8331718; Faksimile: +62 0251 83312755 dan 8331398. E-mail: dsdjati@indo. net.id

Berita

  • Keberlanjutan Pangan Melalui Agroforestry

    23 Mei

    Keberlanjutan Pangan, Lingkungan, dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Agroforestry Modernisasi dunia pertanian telah membawa praktek-praktek pertanian yang intensif dan spesifik komoditas. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa praktek pertanian tersebut telah mampu meningkatkan produktifitas sebuah komoditas per unit area, namun juga telah meninggalkan dampak negatif terhadap peningkatan kerusakan alam erosi, emisi dan penurunan keragaman hayati yang menyebabkan lingkungan menjadi sangat rentan terhadap perubahan iklim yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat. (berita lengkap)

  • Pengembangan Domba Unggul Hasil Penelitian Pemuliaan

    22 Mei

    Pengembangan ternak domba unggul hasil penelitian memerlukan strategi yang layak secara biologis dan ekonomis, untuk itu perlu didukung oleh struktur produksi yang berorientasi kepada sistem usaha yang mengutamakan efisiensi yang terdiri atas tiga strata. (berita lengkap)

  • Networking untuk Pengembangan Buah Nusantara

    21 Mei

    Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan PTPN VIII untuk penyediaan bibit dan anjuran penerapan teknologi buah. Kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari MoU sebelumnya mengenai pengembangan buah nusantara saar Pentas Hortikultura 2012 lalu. (berita lengkap)

  • Tampilkan VU Bunga, Buah, dan Sayuran pada FBBN 2013

    20 Mei

    Keprihatinan terhadap melimpahnya buah impor di Indonesia telah mendorong banyak pihak melakukan gerakan promosi, edukasi, sekaligus tanam buah. Pada Jum’at 17 Mei 2013 berlangsung pembukaan Festival Buah dan Bunga Nusantara (FBBN) di International IPB Convention Center oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. (berita lengkap)

  • Beras Parboil, Beras Glikemik Rendah

    17 Mei

    Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat yang kurang sehat telah mengakibatkan peningkatan beberapa penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus dan hipertensi. Penderita diabetes memerlukan makanan yang dapat menekan kenaikan kadar gula darah secara drastis. (berita lengkap)

  • Budidaya Kacang Panjang

    16 Mei

    Kacang panjang merupakan salah satu sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi sebagian besar penduduk Indonesia. Termasuk dalam famili Fabaceae, tanaman yang memiliki nama latin (Vigna sinensis) ini merupakan salah satu komoditi sayuran yang banyak diusahakan di daerah dataran rendah pada ketinggian 0-200 m dpl. (berita lengkap)

Berita lainnya »